Limbah Kotoran Sapi Disulap Jadi Solusi Lingkungan, Dua Mahasiswa Unej Raih Medali Emas

Limbah Kotoran Sapi Disulap Jadi Solusi Lingkungan, Dua Mahasiswa Unej Raih Medali Emas

Hasil karya infografis tim Universitas Jember-Foto : Humas Universitas Jember-

Jember, Diswaymojokerto.id - Limbah kotoran sapi yang selama ini kerap dianggap sebagai sumber masalah lingkungan justru menjadi bahan inovasi dua mahasiswa Universitas Jember (Unej).

Risky Adwitiya Anggara dari Program Studi Ilmu Tanah dan Destia Keke Rizky dari Program Studi Agroteknologi berhasil meraih Gold Medal I Infografis dalam Pekan Riset dan Ilmiah Mahasiswa (PRISMA) 14 di Universitas Brawijaya.

Prestasi itu diraih melalui gagasan pengolahan limbah kotoran sapi menjadi produk yang dapat memberikan manfaat bagi petani dan peternak sekaligus mendukung lingkungan yang lebih berkelanjutan.

BACA JUGA:800 Lulusan Unej Kenakan Toga, Rektor Titip Empat Bekal untuk Masa Depan

BACA JUGA:Pasukan Penggempur Dalam, Kesatuan Khusus Lahir di Mojokerto 1946 untuk Menyusup dan Merusak Belanda

Kompetisi infografis tingkat nasional tersebut diikuti lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah itu, hanya 15 tim yang berhasil masuk final dan mempresentasikan gagasannya di hadapan dewan juri.

Risky mengatakan, ide tersebut berangkat dari persoalan yang mereka temui di sejumlah desa dengan populasi peternakan cukup tinggi. Kotoran sapi yang menumpuk tidak hanya mengganggu lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan lain jika tidak dikelola dengan baik.

“Kami sadar dan melihat penumpukan limbah kotoran sapi khususnya di desa yang memiliki peternakan. Dari sinilah kami bergerak untuk berpikir mengembangkan inovasi yang tidak hanya menjadi produk, namun bisa berkelanjutan bagi petani dan peternak,” ujar Risky.


Awarding para pemenang PRISMA 14-Foto : Humas Universitas Jember-

Dalam mengembangkan gagasannya, kedua mahasiswa tersebut juga memasukkan pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu pengembangan inovasi sekaligus menjawab persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Gagasan mereka juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah dan pihak swasta dengan tetap memperhatikan potensi serta kearifan lokal.

Kolaborasi dua mahasiswa dari bidang keilmuan berbeda menjadi salah satu kekuatan dalam kompetisi tersebut. Risky dari Ilmu Tanah membawa pemahaman mengenai kondisi tanah dan lingkungan, sedangkan Keke dari Agroteknologi melengkapi gagasan dari sisi budidaya dan pertanian.

BACA JUGA:Secangkir Kopi Boleh, Tapi Jangan Tukar Tidur dengan Kafein

BACA JUGA:34 Santri Mojokerto Dikirim ke Porsadin VII Jatim, Bidik Posisi Dua Besar

Sumber: