Dari Kuala Lumpur, Mahasiswi Unej ini Bawa Bekal Jadi Guru Serbabisa
Empat mahasiswa Pendidikan IPA FKIP UNEJ dalam program magang kependidikan internasional di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia-Foto : Humas Universitas Jember-
Jember, diswaymojokerto.id – Menjadi guru ternyata bukan sekadar menguasai satu mata pelajaran. Kemampuan memahami karakter siswa, mengelola kelas, hingga mengajar di luar bidang keahlian menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Pengalaman itulah yang dirasakan Latifa Nur Ramdhani, mahasiswi Program Studi Pendidikan IPA Universitas Jember (Unej), saat menjalani magang kependidikan internasional di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Bersih-Bersih, Gus Fawait Ingin Pohon yang Ditanam dan Kepedulian yang Terus Tumbuh
BACA JUGA:Bukan Hanya Nilai Rapor, Prestasi Futsal Pelajar Mojokerto Ikut Dongkrak Kualitas SDM
Selama hampir sebulan, tepatnya pada 8–30 September 2026, Latifa mendapat pengalaman mengajar yang jauh dari sekadar teori di bangku kuliah. Ia dipercaya mengampu mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) serta Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Padahal, latar belakang keilmuannya adalah Pendidikan IPA. Namun, pengalaman di SIKL mengajarkannya bahwa seorang pendidik harus siap menghadapi berbagai situasi, termasuk mengajar mata pelajaran di luar bidang yang dikuasai.
BACA JUGA:Tingkatkan Kinerja, Rakor LazisMu Kota Mojokerto Optimalkan Semua Potensi
BACA JUGA:Tumpukan Sampah TPS3R di Jetis Mojokerto Terbakar, Dua Unit Damkar Dikerahkan
“Kita mengajar tidak hanya sesuai bidangnya, melainkan harus bisa menguasai semua bidang pada saat mengajar. Karena di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur ini harus bisa multitalent, multigrade, karena kita harus siap diberikan kelas apa saja dan mata pelajaran apa saja,” ujar Latifa.

Foto bersama mahasiswa UNEJ dengan para siswa di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia-Foto : Humas Universitas Jember-
Tantangan lain datang dari kondisi siswa yang beragam. Latifa mengaku sempat terkejut ketika menemukan siswa SMP yang belum mampu membaca dan menulis. Situasi tersebut membuatnya menyadari bahwa latar belakang keluarga dan pengalaman belajar setiap anak dapat memengaruhi kesiapan mereka dalam mengikuti pembelajaran.
“Sempat shock ada anak SMP yang tidak bisa menulis dan membaca karena memang dari background keluarga yang berbeda-beda,” ungkapnya.
BACA JUGA:Stok BBM di Mojokerto Belum Merata, 4 SPBU Kosong Pertalite dan Solar Bersamaan
BACA JUGA:Menko Sugiono dan Tembakau
Sumber:
