Catatan Sapi Tak Lagi Bergantung pada Kertas, Peternak Lumajang Kenali DairyTrack

Catatan Sapi Tak Lagi Bergantung pada Kertas, Peternak Lumajang Kenali DairyTrack

drh Ali Saifudin MSc, pemateri sekaligus anggota tim pengmas FKH UNAIR di Desa Burno, Lumajang sedang menyampaikan materi rekording digital melalui aplikasi DairyTrack-Foto : Humas Unair-

Lumajang, diswaymojokerto.id – Catatan produksi susu, riwayat penyakit, hingga jadwal reproduksi sapi perah menjadi bagian penting dalam pengelolaan peternakan. Namun, ketika pencatatan masih mengandalkan kertas, risiko kehilangan data dapat menghambat peternak dalam memantau kondisi dan produktivitas ternaknya. Teknologi digital menawarkan alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut, salah satunya melalui aplikasi DairyTrack.

Aplikasi rekording sapi perah itu diperkenalkan oleh dokter hewan Ali Saifudin dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) di Dusun Karanganyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Sabtu 24 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menyasar kelompok tani (Poktan) Wonosari.

BACA JUGA:Antisipasi Karhutla Susulan Gunung Welirang Mojokerto, Dua Posko Siaga di Pacet dan Trawas

BACA JUGA:Pabrik Yodium Mojokerto, Saksi Perebutan Pejuang dan Belanda

Menurut Ali, pencatatan merupakan bagian mendasar dalam pengelolaan ternak. Data yang terdokumentasi dengan baik dapat membantu peternak memahami perkembangan produksi dan menentukan langkah pemeliharaan yang sesuai dengan kondisi ternak.

“Jika kita tidak dapat mencatat dan mengukurnya, kita tidak akan bisa me-manage-nya,” ujar Ali saat menyampaikan materi di Balai Dusun Karanganyar.

BACA JUGA:Festival Pemuda Mojokerto 2026 Meriah, 300 Mahasiswa Terima Beasiswa Pro Bestari

BACA JUGA:Kok Haji Isam?

Selama ini, pencatatan manual masih menjadi salah satu cara yang digunakan peternak untuk mendokumentasikan aktivitas pemeliharaan sapi. Cara tersebut memiliki keterbatasan, terutama ketika catatan rusak akibat air, robek, atau tertinggal di kandang. Jika data hilang, peternak berpotensi kehilangan informasi penting mengenai riwayat ternak yang diperlukan untuk mengevaluasi produksi maupun menentukan tindakan pemeliharaan.

DairyTrack dikembangkan sebagai alternatif pencatatan berbasis digital. Menurut Ali, aplikasi ini dirancang agar ringan dan mudah digunakan, tanpa proses instalasi yang rumit. Dengan ukuran sekitar 68 KiB dan teknologi Progressive Web App (PWA), aplikasi tersebut dapat diakses melalui peramban dan tidak memerlukan instalasi aplikasi konvensional.


Poktan Wonosari, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Lumajang melakukan uji coba penggunaan aplikasi DairyTrack, Sabtu (24/10/2026)-Foto : Humas Unair-

Salah satu fitur yang ditawarkan adalah kemampuan pencatatan ketika koneksi internet lemah atau tidak stabil. Fitur ini relevan bagi peternak yang bekerja di lingkungan dengan keterbatasan jaringan komunikasi. Meski demikian, kemudahan akses dan keberlanjutan penyimpanan data tetap menjadi aspek penting dalam penggunaan aplikasi di lapangan.

Melalui DairyTrack, peternak dapat menghimpun berbagai informasi terkait ternak dalam satu sistem, mulai dari pemberian pakan dan suplemen, diagnosis penyakit, produksi susu, hingga jadwal reproduksi. Data tersebut dapat digunakan untuk memantau riwayat setiap sapi secara lebih terstruktur.

BACA JUGA:Momen Hari Santri, Ketum PBNU Gus Kikin Ajak Pengurus Perkuat Tradisi Pesantren

Sumber: