Desa Binaan UNEJ Minta Pendampingan Tak Berhenti Setelah Program Berakhir
Ir. Basuki, S.P., M.Sc., dosen Fakultas Pertanian UNEJ (FAPERTA) memaparkan hasil pendampingan, tantangan, dan rencana keberlanjutan program Desa Slateng dalam sesi lesson learned pada kegiatan Sarasehan dan Temu Desa Binaan UNEJ.-Foto : Humas Universitas Jember-
Jember, diswaymojokerto.id – Keberhasilan program pengabdian perguruan tinggi di desa tidak cukup diukur dari inovasi yang dihasilkan atau kegiatan yang terlaksana. Lebih dari itu, masyarakat membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar berbagai potensi yang telah dikembangkan benar-benar mampu mendorong kemandirian ekonomi dan kesejahteraan warga.
Aspirasi tersebut disampaikan perwakilan desa binaan Universitas Jember (UNEJ) dalam kegiatan Sarasehan, Expo, dan Temu Desa Binaan yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNEJ di Gedung Auditorium UNEJ, Selasa 3 November 2026.
Dalam forum tersebut, 5 desa binaan memaparkan pengalaman selama mendapatkan pendampingan dari UNEJ. Mereka tidak hanya menceritakan keberhasilan program, tetapi juga mengungkapkan berbagai persoalan yang masih membutuhkan perhatian, terutama terkait keberlanjutan setelah program pendampingan selesai.
BACA JUGA:Tak Sekadar Perayaan, HUT KORPRI ke-55 di Kota Mojokerto Hadirkan Aksi Nyata untuk Masyarakat
BACA JUGA:Ning Ita Minta Kader Percepat Aktivasi IKD, Target 100 Persen Dikejar dalam Dua Bulan
Sejumlah inovasi telah memberikan dampak ekonomi maupun sosial bagi masyarakat. Di Desa Slateng, misalnya, pemanfaatan limbah serbuk gergaji menjadi biochar membantu petani menekan biaya produksi hingga 40 persen.
Di kawasan pesisir Puger Kulon, pengembangan wisata Mini Jimbaran di Pantai Pancer membuka peluang ekonomi baru melalui wisata kuliner dan kolam pemandian air asin. Sementara di Desa Bangsalsari, integrasi peternakan ayam petelur dengan budidaya maggot dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi balita melalui kegiatan Posyandu.

Berbagai produk hasil inovasi dan pendampingan masyarakat desa binaan Universitas Jember dipamerkan dalam Expo Desa Binaan di Gedung Auditorium UNEJ, Selasa (3/11/2026).-Foto : Humas Universitas Jember-
Praktik pemberdayaan lainnya dilakukan di Desa Jambearum melalui pengembangan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pemanfaatan limbah pertanian. Adapun di kawasan pesisir Tanjung Sekeben, Banyuwangi, restorasi terumbu karang mulai memperlihatkan perkembangan, ditandai pertumbuhan karang dan kembalinya ikan ke kawasan tersebut.
Meski menunjukkan hasil positif, perjalanan program di masing-masing desa tidak lepas dari kendala. Keterbatasan sumber daya manusia, kondisi lingkungan, serta kebutuhan pengembangan usaha dan fasilitas pendukung menjadi persoalan yang perlu diselesaikan agar inovasi yang telah dirintis tidak berhenti di tengah jalan.
BACA JUGA:Nekat Melintas di Mojosari, 28 Truk Angkutan Barang Terjaring Razia Gabungan
Karena itu, perwakilan kepala desa dan kelompok masyarakat menyampaikan lima rekomendasi untuk memperkuat pola pengabdian UNEJ. Rekomendasi tersebut dibacakan Kepala Desa Sumber Kokap, Kecamatan Taman Krocok, Bondowoso, Mukhlasin.
Ia menegaskan, masyarakat desa membutuhkan hubungan kemitraan jangka panjang dengan perguruan tinggi, bukan sekadar program yang datang ketika ada kegiatan dan berakhir setelah pendanaan atau masa pendampingan selesai.
Sumber:


