Pertama Kali dalam Sejarah, PAD Kabupaten Jember Tembus Rp 1 Triliun

Pertama Kali dalam Sejarah, PAD Kabupaten Jember Tembus Rp 1 Triliun

Bupati Jember Muhammad Fawait menggelar konferensi pers terkait capaian PAD Jember yang tembus Rp 1 Triliun-Foto : Kominfo Kabupaten Jember-

Jember, diswaymojokerto.id - Pertama kali dalam sejarah Jember, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jember bisa tembus di angka Rp 1 Triliun pada tahun 2025 lalu.  Prestasi ini disampaikan oleh Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Jember saat menggelar press conference di Aula Kantor Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Selasa 6 Januari 2026

Kabupaten Jember mencatatkan pencapaian fiskal yang luar biasa di bawah kepemimpinan Bupati Jember, Gus Fawait. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kabupaten, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jember berhasil menembus angka sebesar Rp1,024 triliun.

Angka ini menunjukkan lonjakan drastis dibandingkan periode sebelumnya yang berada di kisaran Rp 774 miliar. Secara persentase, Jember mengalami kenaikan PAD sebesar 32,36 persen, sebuah lompatan besar yang mengundang apresiasi luas dari berbagai pihak.

Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan, kenaikan pendapatan daerah yang signifikan ini tidak diperoleh dengan cara menaikkan beban pajak kepada masyarakat. Sebaliknya, pemerintah daerah justru melakukan relaksasi fiskal di beberapa sektor kunci.

BACA JUGA:Pelunasan Bipih Tahap Pertama Capai 70%, Kemenag Mojokerto Buka Tahap Kedua

BACA JUGA:Sidang Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Tiara Dimulai, Alvi Maulana Didakwa Pembunuhan Berencana

"Kenaikan ini patut kita banggakan karena dicapai tanpa menaikkan pajak. Justru, kami menurunkan beberapa pungutan, seperti retribusi pasar tradisional," ujar Gus Fawait.

Langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi filosofi keberpihakan kepada wong cilik atau masyarakat kecil, yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Gus Fawait menekankan, pedagang pasar tradisional dan pelaku sektor informal adalah pilar yang menyelamatkan ekonomi nasional di tengah berbagai krisis, mulai krisis moneter 1998, krisis global 2008, hingga pandemi Covid-19.

Sebagai strategi untuk menjaga stabilitas dan pemerataan ekonomi, Pemkab Jember meluncurkan berbagai program penguatan sektor informal. Di antaranya, gerobak cinta melalui mlijo cinta dan pengembangan food street.

Gus Fawait menggarisbawahi, fokus pemerintah bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan memastikan adanya pemerataan. Menurut dia, hakikat pembangunan di Jember harus menyentuh masyarakat desa dan sektor-sektor kecil yang selama ini sering terabaikan.

"Filosofi kami jelas. Yang kecil harus kita lindungi dan yang besar harus kita ayomi. Keberhasilan menembus angka Rp 1 triliun ini adalah prestasi kolektif seluruh elemen di Kabupaten Jember," pungkasnya.

Sumber: