Kisah Koesnandar, Arek Mojokerto di Pusaran Proklamasi
Koesnandar Partowisastro saat memasang spamduk di depan lokasi yang pernah jadi Asrama Baperpi di Menteng 71-Foto : Istimewa-
Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Nama Koesnandar Partiwisastro, pemuda kelahiran Mojokerto 1 Oktober 1921, ternyata terlibat dalam pusaran proklamasi kemerdekaan Indonesia serta salah satu pemuda terlibat penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok.
Peristiwa kunci mendorong percepatan proklamasi kemerdekaan Indonesia itu melibatkan anak-anak muda yang mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan, berlawanan dengan keinginan golongan tua yang menunggu kepastian kekalahan Jepang.
Putra Mojokerto ini sebelumnya telah menyelesaikan pendidikan di HIS, ia melanjutkan ke MULO Mojokerto pada Juni 1938 untuk meneruskan jenjang pendidikannya. Koesnandar memilih pergi jauh ke Jakarta dengan masuk ke AMS-B hingga lulus pada tahun 1941.
Pendidikan selanjutnya yang ia tempuh adalah Landbouw Hogeschool yang tidak sempat diselesaikan karena kedatangan tentara Jepang.
BACA JUGA:Tahun 2026, Kemenkes Fokuskan CKG pada Penanganan Hasil Pemeriksaan
BACA JUGA:Mobil Toyota Innova Terguling di Tol Jombang Mojokerto, Pengemudi Alami Luka Ringan
Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq mengatakan, saat menempuh pendidikan tinggi di Landbouw Hogeschool Bogor itulah, ia berkenalan dengan para aktivis pergerakan.
Meski sekolah ada di Bogor, kesehariannya kerap ke Jakarta, tepatnya di rumah pondokan (Ropo) mahasiswa yang ada di Cikini 71. Ropo itu sendiri merupakan markas Baperpi (Badan perwakilan pelajar Indonesia) yaitu peleburan dari organisasi PPPi dan Indonesia Muda.
"Walau Soepeno ditunjuk jadi ketuanya, Baperpi lebih dikenal sebagai organisasi dipengaruhi oleh Chairul Saleh," ucapnya, Sabtu, 24 Januari 2026.
Baperpi sendiri berdiri pada tahun 1941, pada waktu itu Hindia Belanda dalam tekanan Jepang, bertujuan membantu para pelajar dan mahasiswa sedang kesulitan akibat putusnya komunikasi dengan keluarganya di daerah.
Hal itu dialami juga oleh Koesnandar yang sudah tidak bisa berhubungan dengan keluarganya di Mojokerto. Di asrama Baperpi itulah Koesnandar hidup bersama kawan-kawan senasib. Oleh karenanya mereka menyebut asrama Baperpi dengan nama Roemah Pondokan (Ropo).
"Saat Jepang datang semua kegiatan politik, termasuk Baperpi, dilarang. Beberapa orang penghuni Ropo ditarik menjadi pegawai Jepang, antara lain Chairul Saleh yang masuk dalam Sidenpu, badan propaganda," terangnya.
BACA JUGA:Kegunaan Bangkai Pesawat Deraya Papua di Lahan Kosong Mojokerto Masih Menjadi Misteri
BACA JUGA:Ambulans Gartis – Non Tarif Mojokerto, Inilah Berbagai Kegiatannya
Sumber:
