Mahasiswa UNEJ Kembangkan Inovasi "TurtleSafe" untuk Selamatkan Penyu

Mahasiswa UNEJ Kembangkan Inovasi

Mohammad Arsy Darmawansyah dan tim menunjukkan poster riset "The Impact of Budget Efficiency on Disaster Management and Legal Protection in Indonesia" pada APRU ke-20-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

 

Jember, Diswaymojokerto.id - Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil mengintensifkan pengembangan alat perlindungan telur penyu "TurtleSafe" untuk melindungi telur penyu. Inovasi TurtleSafe yang dikembangkan tim mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember itu fleksibel dan adaptif untuk berbagai kondisi pantai di Indonesia guna menjaga biodiversitas laut.

Selain mengembangkan alat perlindungan telur penyu, tim yang yang beranggotakan Muhammad Ridwan Ghani Abhirama, Naura Salma Taqiyya, Adinda Riski Oktasari, dan Sayyidha Rahma Audyna itu juga menghadirkan inovasi mitigasi bencana dan perlindungan ekosistem. ‘’Ada beberapa hal yang kami ingin lakukan terkait biodiversity, termasuk mengenai mitigasi bencana dan perlindungan ekosistem,’’ katanya, Jumat, 30 januari 2026, di Kampus Univeristas Jember.

Perlindungan terhadap telur penyu dipandang sangat mempengaruhi jumlah penambahan populasi penyu yang rentan terhadap perubahan iklim dan ancaman predator. Disebutkan, dengan TurtleSafe, perlindungan terhadap telur penyu makin meningkat.


Arsy dan tim dalam sesi diskusi dan tanya jawab pada APRU ke-20 di Filipina-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

Selain inovasi TurtleSafe, tim tersebut juga menyoroti ancaman banjir yang kini menjadi isu krusial di berbagai wilayah. Terkait kondisi di Sumatera yang dalam proses penangana bencana, Arsy menyoroti ancaman banjir yang kini menjadi isu krusial di berbagai wilayah.

BACA JUGA:Nasabah Diharap Tenang, OJK Cabut Izin Usaha PT BPR Prima Master Bank Surabaya

BACA JUGA:Darurat Pencemaran Gili Iyang, LaNyalla:Lindungi Paru-Paru Dunia dari Tumpahan Minyak

Terkait penanganan pasca becana banjir bandang di Sumatera, dia menekankan pentingnya efisiensi anggaran penanggulangan bencana yang tetap berpihak pada kemanusiaan. ‘’Kami melihat adanya korelasi kuat antara kebijakan fiskal dan kecepatan penanganan di lapangan,’’ tuturnya.

Sejalan dengan itu, tim tersebut juga melakukan kajian mendalam di Jember mengenai dampak pengerukan gumuk pasir. ‘’Perlu mitigasi bencana pada setiap kegiatan yang berkaitan dengan ekosistem, termasuk pengerukan gumuk pasir atau yang lainnya,’’ sahutnya.

Tampaknya Arsy dan kawan-kawan benar-benar ingin menunjukkan bahwa mereka tidak berhenti pada penelitian dan pengembangan alat atau system. Mereka juga telah mengkaji topik pada forum global.


Mohammad Arsy Darmawansyah mahasiswa FT UNEJ yang menyoroti pentingnya efisiensi anggaran penanggulangan bencana yang tetap berpihak pada kemanusiaan-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

Pada November 2025 lalu, mereka berhasil mempresentasikan karya ilmiahnya dalam forum internasional bergengsi Asia-Pacific Research Universities (APRU) ke-20 di Filipina. Mereka menyajikan riset "The Impact of Budget Efficiency on Disaster Management and Legal Protection in Indonesia".

BACA JUGA:Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Jember, 191 KK Terdampak

Seperti diketahui, APRU merupakan forum ilmiah internasional bergengsi yang bersifat kompetitif yang bertujuan memperkuat kolaborasi akademik, penelitian, dan inovasi lintas negara. APRU menjadi wadah bagi beberapa universitas untuk bekerja sama dalam menjawab berbagai isu global, mulai dari perubahan iklim, kebencanaan, kesehatan, hingga pembangunan berkelanjutan. Melalui riset kolaboratif, konferensi internasional, dan kompetisi ilmiah bagi mahasiswa maupun peneliti.

Riset yang diangkat oleh mahasiswa UNEJ berfokus pada efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah untuk menanggulangi bencana yang ada di Sumatera. ‘’Pada topik ‘The Impact of Budget Efficiency on Disaster Management and Legal Protection in Indonesia’ sangat relevan dengan bencana di Sumatra, yang terjadi tepat saat kami mempresentasikan paper ini,’’ paparnya.

Para mahasiswa itu menyadari bahwa efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah dapat mempengaruhi kecepatan dan kualitas penanggulangan bencana. ‘’Itu juga mengakibatkan penderitaan lebih lama bagi masyarakat, seperti yang terjadi saat banjir besar yang menumpuk lumpur setinggi rumah di Sumatera,’’ ungkap Arsy yang juga ketua tim.

Dia menyebutkan, alasan tim mengangkat tema tersebut karena posisi Indonesia sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi ke-2 di dunia setelah Filipina. ‘’Juga ada beberapa alasan mendalam seperti kerentanan gegografis, dilema konstitusional, dan ketergantungan anggaran dimana anggaran BNPB sangat bergantung pada APBN, sehingga sangat rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal pusat,’’ sahutnya.

BACA JUGA:Riset Doktor Bioteknologi Perdana UNEJ Ungkap Infeksi Ganda Virus Mosaik Tebu

Melalui riset ini tim memberikan beberapa metode inovasi yang dapat diterapkan untuk menanggulangi dampak efisiensi anggaran pada bencana. ‘’Kami menerapkan keterbaruan penggunaan metode Cost-Benefit Analysis (CBA), Net Present Value (NPV), dan Value of Statistical Life (VSL) untuk menilai dampak pemotongan anggaran kebencanaan dengan pertimbangan tingkat kerentanan wilayah di Indonesia,’’ jelasnya.

Topik yang mereka angkat ini memiliki nilai positif bagi penilaian juri, karena selain isu topik yang diangkat masih hangat dan menarik. Selain itu juga memberikan nilai tambah yang membuat presentasi tim lebih relevan dan aktual.

‘’Kami percaya bahwa salah satu faktor yang membuat kami menonjol adalah kemampuan memprediksi dampak buruk dari kebijakan efisiensi anggaran terhadap penanggulangan bencana, yang kebetulan terjadi saat kami mempresentasikan topik tersebut,’’ tandasnya.

BACA JUGA:Cuaca Ekstrem, Pohon Jati Tumbang Tutup Jalan Raya di Jatirejo Mojokerto

Merreka merasa ini memberikan nilai tambah yang membuat presentasi lebih relevan dengan kondisi actual. ‘’Serta menggugah perhatian banyak pihak terhadap pentingnya anggaran yang memadai,’’ pungkasnya.

Sumber: