Pecel Semanggi Surabaya Tetap Jadi Primadona di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Pecel Semanggi Surabaya Tetap Jadi Primadona di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Penjual pecel semanggi Suroboyo-Foto : Raka Magang-

Surabaya, diswaymojokerto.id – Di tengah menjamurnya kafe kekinian dan makanan cepat saji di Kota Pahlawan, kudapan tradisional Pecel Semanggi terbukti tetap eksis dan dicari oleh masyarakat maupun wisatawan.

Para pedagang tradisional yang mayoritas berasal dari wilayah Benowo, Surabaya, bersama dengan para pecinta kuliner lokal.

Penjualan dan pelestarian Pecel Semanggi, makanan khas yang terbuat dari daun paku air (Marsilea crenata), disiram bumbu ketela rambat yang manis-gurih, dan disajikan dengan kerupuk puli.

Kawasan pusat keramaian Surabaya, seperti area Car Free Day (CFD) Darmo, sekitaran Masjid Al-Akbar, hingga sentra kuliner di wilayah Surabaya Barat.


Pecel semanggi Suroboyo-Foto : Raka Magang-

Setiap hari, namun mencapai puncak keramaian pada hari libur atau akhir pekan saat warga Surabaya berolahraga pagi.

Selain karena rasanya yang unik dan otentik, Semanggi Surabaya dipertahankan karena nilai historisnya sebagai identitas budaya kota yang tidak ditemukan di daerah lain.

BACA JUGA:Peralatan Makan di Lapas Mojokerto Disterilisasi dengan Air Panas untuk Cegah Penyakit

BACA JUGA:Taman Kelinci Padusan Park Pacet Mojokerto, Rekreasi Alam sekaligus Wisata Edukatif

Para penjual (yang akrab disapa Ibu Semanggi) biasanya menjajakan dagangannya dengan cara menggendong keranjang bambu dan mengenakan kain jarik tradisional, menjaga cara penyajian asli menggunakan pincuk daun pisang agar aroma tetap terjaga.

Selain kuliner, ada juga lagu keroncong terkenal dengan judul yang sama, diciptakan oleh S. Padimin, yang menceritakan tentang makanan dan tempat wisata Surabaya.


Pecel semanggi Suroboyo disajikan menggunakan pincuk dan daun pisang-Foto : Raka Magang-

Mengenal Pecel Semanggi Surabaya

Bahan Utama: Daun semanggi (tanaman air), kecambah, bunga turi, dan daun ubi jalar.

Sumber: