Biaya Pengobatan Penyakit Jantung di Indonesia Menjadi Persoalan Serius
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono pada saat Jumpa Pers Bakti Sosial oleh King Salman Humanitarian Aid and Relief Centre (KSR) di RSJP Harapan Kita Jakarta-Foto : Humas Kemenkes-
Jakarta, diswaymojokerto.id - Beban biaya pengobatan penyakit jantung di Indonesia masih jadi persoalan serius. Di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta, rata-rata biaya satu kali operasi jantung anak saja bisa mencapai Rp100 juta, sementara BPJS Kesehatan hanya menanggung hanya bisa sekitar 30% dari total pembiayaan, atau 30 juta. Selisihnya harus ditanggung rumah sakit.
Demikian penjelasan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, seperti dikutip dari laman Kemenkes, 7 Februari 2026
Dante melanjutkan, masalah tersebut makin berat karena dari sekitar 50.000 kasus baru penyakit jantung bawaan tiap tahun, baru sekitar 5.000 anak yang bisa mendapat penanganan.
“Sisanya masih harus mengantre karena keterbatasan tenaga medis dan mahalnya alat kesehatan berteknologi tinggi seperti Contegra maupun Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI)” tandasnya.
BACA JUGA:Tak Ingin Menyamai Mall, Zea Clothes Hadirkan Gaya Feminin Lokal
BACA JUGA:Pecel Semanggi Surabaya Tetap Jadi Primadona di Tengah Gempuran Kuliner Modern
Di tengah tantangan itu, Kementerian Kesehatan RI mengapresiasi dukungan KSR yang sudah berjalan sejak September 2023. Pada bakti sosial tahun ini, 2–6 Februari 2026, KSR bersama RSJPD Harapan Kita menangani 4 pasien dewasa untuk prosedur TAVI dan 31 pasien anak untuk bedah kardiovaskular pediatrik serta penyakit jantung bawaan. Kegiatan ini juga diisi dengan transfer pengetahuan lewat kuliah tamu dari pakar jantung Arab Saudi.
Wamenkes Dante, mengakui bahwa soal biaya jadi kendala utama. "Angkanya sekitar 8 dari 1.000 kelahiran. Dari sekitar 50 ribu kasus per tahun, yang bisa tertangani baru sekitar 5 ribu. Sisanya harus menunggu karena keterbatasan tenaga medis dan pembiayaan," ujarnya.
Dante menyebut dukungan KSR sangat berarti karena total sudah sekitar 260 kasus yang ditangani dengan nilai bantuan Rp62 miliar. Ia juga menegaskan pemerintah akan terus mendorong agar BPJS bisa memberi porsi pembiayaan lebih besar untuk tindakan katastropik seperti operasi jantung.
Pada kesempatan yang sama Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Iwan Dakota, menjelaskan bahwa rumah sakit tidak bisa menanggung seluruh beban sendirian, apalagi sekitar 90 persen pasien menggunakan JKN.
BACA JUGA:Peralatan Makan di Lapas Mojokerto Disterilisasi dengan Air Panas untuk Cegah Penyakit
BACA JUGA:Alami Pecah Ban, Truk Bermuatan Buah Naga Terguling di Tol Jombang-Mojokerto
"Layanan jantung untuk kasus kompleks butuh teknologi dan alat medis berbiaya tinggi. Dukungan dari KSR sangat membantu agar kami tetap bisa memberikan pelayanan terbaik sesuai standar global," katanya.
Sementara itu, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal bin Abdullah Amodi, menyampaikan bahwa program ini merupakan arahan langsung Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Sumber:


