Jeritan UMKM Benteng Pancasila Mojokerto yang Gagal Tembus Pasar Digital

Jeritan UMKM Benteng Pancasila Mojokerto yang Gagal Tembus Pasar Digital

Lapak-lapak di Pasar Benteng Pancasila Mojokerto sepi pembeli-Foto : Raka Magang-

Mojokerto, diswaymojokerto.id – Kawasan Benteng di Kota Mojokerto, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat denyut nadi perdagangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kini sedang menghadapi masa suram.

Sejak awal tahun 2025 hingga memasuki Februari 2026, tercatat puluhan lapak pedagang terpaksa gulung tikar akibat ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan arus digitalisasi yang kian agresif.

Fenomena ini melibatkan para pelaku UMKM sektor tekstil, alas kaki, dan kuliner tradisional di kawasan Benteng. Mereka mengalami penurunan omzet yang drastis, mencapai 60 hingga 70 persen dibandingkan periode sebelum pandemi.

Banyak dari pedagang ini adalah pelaku usaha generasi lama yang masih mengandalkan sistem penjualan konvensional atau "tunggu bola"—menunggu pembeli datang ke toko fisik.


Banyak lapak yang tutup karena gagal tembus pasar digital-Foto : Raka Magang-

Penyebab utama kegagalan ini adalah kesenjangan literasi digital. Sebagian besar pedagang di Benteng merasa kesulitan mengoperasikan aplikasi marketplace dan enggan mempelajari algoritma media sosial.

Selain itu, gempuran produk dari luar daerah dengan harga yang jauh lebih murah di platform belanja daring membuat produk lokal kalah saing.

BACA JUGA:Pasca Keracunan Massal di Mojokerto, Satgas MBG Dioptimalkan untuk Awasi Program Pusat

BACA JUGA:Mau Tahu 3 Pesantren Favorit yang Ada di Mojokerto? Ini Dia

"Kami bingung cara mengunggah foto produk agar menarik, apalagi harus melayani pesanan lewat HP setiap saat. Akhirnya pembeli lari ke toko online yang lebih praktis," ujar Pak Sugeng, salah satu perajin sepatu yang baru saja menutup tokonya.

Kelesuan ini sangat terasa di sepanjang Jalan Benteng, Kota Mojokerto. Puncak kemerosotan ini terlihat sepanjang tahun 2025, di mana pola belanja masyarakat Mojokerto bergeser total ke ekosistem digital, meninggalkan pusat-pusat perbelanjaan fisik yang tidak memiliki branding kuat di internet.


Taman Benteng Pancasila yang berdekatan dengan Pasar Benteng Pancasila tidak siginifikan menaikkan jumlah pembeli-Foto : Raka Magang-

Menanggapi hal ini, Dinas Koperasi dan UKM setempat sebenarnya telah melakukan beberapa pelatihan. Namun, metode pendampingan yang ada dinilai kurang menyentuh akar permasalahan secara berkelanjutan.

Dibutuhkan sinergi antara generasi muda (Gen Z) sebagai motor digital dengan para pelaku usaha senior untuk melakukan digitalisasi produk secara menyeluruh—mulai dari manajemen stok hingga pemasaran kreatif.

Sumber: