Pengrajin Cobek Sambiroto Mojokerto Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Pengrajin Cobek Sambiroto Mojokerto Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Pengrajin cobek Sambiroto Mojokerto di tengah perubahan zaman-Foto : Habib Magang-

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, pengrajin cobek tanah liat di Dusun Sambiroto, Desa Mlaten, Kabupaten Mojokerto masih bertahan menjaga produksi tradisional. 

Salah satunya adalah UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) cobek tanah liat Lemu milik Sumiono, yang hingga kini terus memproduksi cobek secara manual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal hingga luar daerah.

Sumiono mengatakan, cobek produksinya selama ini dipasarkan melalui pasar tradisional dan pengepul. Namun seiring perkembangan zaman, permintaan konsumen mulai berubah. Pembeli kini tidak hanya memperhatikan fungsi, tetapi juga bentuk dan tampilan produk.

“Dulu cobek ya cuma buat masak. Sekarang orang juga lihat bentuk dan warnanya. Kalau tampilannya kurang menarik, susah bersaing,” ujar Sumiono saat ditemui di lokasi produksi.


Pengrajin cobek Lemu di Sambiroto -Foto : Habib Magang-

Untuk menyesuaikan kebutuhan pasar, ia mulai melakukan sejumlah penyesuaian, mulai dari menjaga kualitas bahan tanah liat hingga menambahkan sentuhan warna dan motif sederhana pada sebagian produk Lemu. 

Meski demikian, seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual, mulai dari pembentukan, pengeringan, hingga pembakaran.

Sumiono mengungkapkan, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah naiknya biaya produksi, terutama bahan baku dan kebutuhan kayu bakar. Di sisi lain, harga jual tidak selalu bisa ikut naik karena harus menyesuaikan daya beli masyarakat.

BACA JUGA:224 Calon Jemaah Haji Kota Mojokerto Ikuti Manasik Haji

BACA JUGA:Pisang, Si Kuning dengan Berjuta Manfaat

“Kadang bahan naik, tapi harga jual harus tetap. Kalau dinaikkan terlalu tinggi, pembeli bisa berkurang,” katanya.

Cobek produksi Lemu tersedia dalam berbagai ukuran, mulai kecil hingga besar, menyesuaikan kebutuhan rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner. Dalam kondisi normal, Sumiono mampu menghasilkan puluhan cobek per hari, tergantung cuaca dan proses pengeringan.

Selain mengandalkan penjualan langsung, dia juga mulai mencoba pemasaran melalui media sosial dan marketplace secara sederhana. Langkah ini dilakukan agar jangkauan pembeli lebih luas, tidak hanya dari Mojokerto dan sekitarnya.

“Masih belajar jual online. Anak-anak yang bantu foto dan unggah. Harapannya bisa dapat pembeli dari luar daerah,” ungkapnya.

Sumber: