Mengenal Raden Koesbini, Putra Mojokerto Pencipta Lagu Bagimu Negeri
Koesbini arek Mojokerto, pencipta lagu nasional Bagimu Negeri-Foto : istimewa-
Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Di balik syair lagu Hymne Bagimu Negeri yang sarat makna pengabdian, terdapat nama seorang putra bangsa kelahiran Mojokerto, Raden Koesbini. Pria yang lahir di Kemlagi pada 1 Januari 1909 ini merupakan komponis yang karyanya tetap dikenang sepanjang masa.
Koesbini adalah putra dari R. Koesnio, seorang mantri kehutanan (hoofdiner Boswissen), dan ibunya bernama Moesinah. Sebagai anak seorang pegawai kehutanan, masa kecilnya kerap berpindah-pindah di kawasan pinggiran hutan.
Kondisi itu membawanya bergaul dengan anak-anak desa tepi hutan yang hidup dalam kesengsaraan di era penjajahan, yang kemudian memengaruhi jiwa seninya.
Lokasi kelahirannya diduga berada di sekitar Kemantrian Kehutanan, di sebelah utara perempatan Desa Kemlagi. Kini, kawasan itu menjadi tempat pembibitan tanaman. Sayang, masa kecilnya di Kemlagi tidak lama karena ia harus mengikuti orang tuanya yang berpindah tugas.
BACA JUGA:Inilah 7 Puncak Gunung yang Wajib Dikunjungi Saat Lakukan Pendakian di Mojokerto
BACA JUGA:Pemkab Mojokerto Diminta Sisihkan Anggaran untuk Penanganan Sampah dan Kompos
Pendidikannya dimulai di HIS Jombang, menandakan latar belakang keluarganya sebagai bagian dari strata priyayi. Setelah itu, Koesbini melanjutkan ke MULO dan kemudian mengambil kursus ilmu dagang di Senerpont Dornis, Surabaya, hingga selesai pada 1926.
Meski sempat bekerja sebentar di Toko Lindeteves Surabaya, ia justru lebih memilih jalur hidup sebagai musisi, sebuah pilihan yang kelak melahirkan karya abadi bagi bangsa.
"Sejak kecil memang gandrung dengan alat musik. Dia belajar secara otodidak dengan bimbingan kakaknya, Koesbandi. Setelah selesai sekolah Koesbini segera menyusul kakaknya yang terlebih dulu merintis karir musik di Surabaya," ujar Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq, Minggu, 15 Februari 2026.
Koesbini bergabung dengan orkes keroncong Jong Indische Stryken Tokkel Orkest (JISTO) dimana Koesbandi juga ada di dalamnya. Sang kakak memang menjadi panutan Koesbini dalam memulai karirnya. Karena minatnya pada musik itu dia ingin menambah ilmu dengan masuk pada Algemene Muziekler Apollo (Sekolah Musik Apollo) di Malang tahun 1927.
BACA JUGA:Tips Merawat Rambut Agar Selalu Sehat
BACA JUGA:Hujan Deras Akhir Pekan, Ribuan KK di 9 Kecanatan di Jember Terdampak
Tawaran menjadi pemain musik dan penyayi datang dari radio NIROM. Dia juga dipercaya memimpin Studio Orkes Surabaya (SOS) merangkap sebagai penyayi bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami. Selain itu, dia juga merangkap pembantu penyiar pada radio "CIRVO" (Chines Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost java) dan bekerja juga sebagai penggubah lagu di pabrik piringan hitam "Hoo Sun Hoo".
Karir musiknya menanjak dan kian diperhitungkan. Koesbini kemudian diajak oleh Fred Young untuk bergabung pada Majestic Film Company yang berpusat di Malang. Dia diminta untuk membuat ilustrasi musik pada film diproduseri Fred Young. Karena kegiatan film lebih banyak di Batavia maka Koesbini pun pindah kesana.
Sumber:




