Pondok Pesantren harus Bertransformasi 4 Pilar, Pengajar, Santri, Sarana Prasarana, dan Kurikulum

Pondok Pesantren harus Bertransformasi 4 Pilar, Pengajar, Santri, Sarana Prasarana, dan Kurikulum

H Muhammad Ghofirn, M.Pd-andung - disway mojokerto-

 

Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Pondok pesantren harus melakukan transformasi 4 pilar, mulai dari pengajar, santri, kurikulum, sampai sarana dan prasarana. Hal itu disampaikan Sekjed JKSN< H Mohammad Ghofirin, M.Pd, di sela-sela penutupan SIlaturahm Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Persatuan Guru Nahdlatul Ulama dan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Graha Afia PP Amanatul Ummah di Desa Benduganjati, Kecamatan Pacet, Minggu, 15 Februari 2026.

Dia menyebutkan, Pergunu dan JKSN harus mampu memberi kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa dan negara. Dalam silaturhami Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional tersebut, berhasil dihasilkan berbagai rekomendasi-rekomendasi yang bermanfaat dan nantinya dijadikan acuan dan diterapkan di pesantren-pesantren di Indonesia.

‘’Kita prihatin ketika arus globalisasi yang sudah masuk ke dindonesia diikuti dengan berbagai macam pelemahan-pelemahan di dalamnya. Kita tidak igin ekonomi kita melemah, semangat juang melemah, dan pembangunan yang dilakukan hanya menguntunkan segelintir orang,’’ katanya.


Peserta Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Pergunu dan JKSN-andung - disway mojokerto-

Karena itu kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya mewujudkan bangsa dan negara menjadi adil dan Makmur. ‘’Ada reorientasi cita-cita kemerdekaan. Kalua dulu pesanntren didirikkan untuk mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan, sekarang pesantren meuwujudkan cita-cita kemerdekaan , mewujudkan Indonesia adil dan Makmur,’’ tambahnya.

BACA JUGA:Pengendara Motor Tewas Usai Tabrak Truk Kontainer di Kutorejo Mojokerto

BACA JUGA:Warga Binaan Lapas Mojokerto Ikuti Tes HIV dan Pemeriksaan Kesehatan

Untuk itu, pondok pesantren mengusung tema transformasi dengan 4 pilarnya, yakni kiai transformatif, santri inovatif, sarana dan prasatrana yang representative, serta kurikuklu berbasis digital. ‘’Empat komponen itu sangat penting dan menjadin pilar dipondok pesantren,’’ tambanya.

Disebutkan, JKSN dan Pergunu tidak ingin pesantren terninabobokkan dengan suasan nyaman dalam beberapa tahu lalu. ‘’Kita harus membangunkan para pengasuh terhadap kondisi saat ini yang sudah demikian cepatnya berubah,’’ tuturnya.

Tranformasi pesantren diawali dengan kiai tranfomatif yang tidak hanya menjaga tradisi peantren, tetapi sudah adaptif, mampu dan mau mengadaptasi perkembangan-perkembangan terkini. Kemudian santri inofatif yang memperdalam ilmu agama, tetapi tidak hanya terkotak pada ilmu agama, melainkan dibekali ketrampilan di luar pendidikan agama.


Peserta Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional Jaringan Kiai Santri Nasional pada acara penutupan kegiatan di Graha Fia PP Amanatul Ummah di Desa Bendunganjagti, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto-andung - disway mojokerto-

‘’Seperti bahasa dan wirausaha sehingga alumnus pondok pesantren menjadi alumnus yang berdaya. Tidak hanya sekedar mengandalkan bidang agama saja. Santri hafrus bisa menguasai banyak hal selain bidang agama,’’ tuturnya.

BACA JUGA:Pemkab Mojokerto Diminta Sisihkan Anggaran untuk Penanganan Sampah dan Kompos

BACA JUGA:Menikmati Sensasi Ngopi di Atas Awan dengan Panorama Gunung Penanggungan

Pilar berikutnya adalah sarana representaif, dalam arti, JKSN tidak ingin pesantren didirikan dengan bangunan apa adanya. ‘’Kita ingin kelasnya representative, asrama, tempat bersih dirinya seperti kamar mandi dan fasilitas lainnya, juga representatif,’’ sahutnya.

Secara singkat, tambahnya, JKSN ingin sarana dan prasarana pesantren yang benar-benar representatif bagi para santri. ‘’Sehingga kegiatan di pondok bisa berlangsung dengan baik dan nyaman bagi para santri dan pengajar maupun kiainya,’’ jelasnya.

Untuk itu, dibutuhkan kepedulian berbgaiai pihak, termasuk pemerintah, baik pusat maupun daerah. ‘’Karena sudah ada UU pesnatren, bahkan juga sudah ada perda atau pergub tentang, yang tentu merupakan hal yang bisa dijadikan payung hokum atau cantolan untuk peduli pada pesantren,’’ paparnya.

Karena itu dia mengajak semua pihak untuk wujudkan sarana dan prasarana pesantren yang representative. ‘’Jangan ada lagi kejadian-kejadian yang disebabkan oleh rapuhnya atau kurangnya bangunan maupun sarana di pesantren,’’ tandasnya.

BACA JUGA:Kenapa Berat Badan Bertambah Saat Berpuasa ? Ini Dia Penyebabnya

BACA JUGA:Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional, DKPPP Jember Gelar Pasar Murah, Di Jombang Bupati Sidak Pasar Pon

Pilar ke 4, yakni kurikulum berbasis digilta. ‘’Kita ingin di pesantren-pesantren, kurikulum disusun secara merdeka secara  mandiri dan berbasis digital edukatif. Sehingga pondok pesantren diberikan kebesan untuk menyusun kurikulum memiliki cara pandang yang tidak kalah dengan lainnya,’’ sahutnya.

Kurikulum berbasis berbagis digital sehingga gaya-gaya atau cara-cara lama yang diajarkan di pesntren juga disampaikan menggunakan digitaliasai. ‘’Agar anak-anak yang dididik di pesantren sudah mulai terbiasa dengan metode tersebut,’ tuturnya,

Disebutkan digital tidak harus selalu dimaknai setiap hari memegang HP atai laptop. ‘’Tetapi banyak sisi lainnya tentang digitaliasai yang dilakukan untuk membekali anak-anak di pondok pesantren,’’ sahutnya.

Dia menyebutkan, Pendidikan di Indonesia ada 2 acuan, yakni ada kemendiknas sampai pendidkan tinggi dan acuan dari Kemenag. Pondok pesantren yang tidak memikiki pendidian formal, bisa mengacu pada kurikulum Kemenag yang bisa dikembangkan pesantren.

BACA JUGA:Tips Merawat Rambut Agar Selalu Sehat

BACA JUGA:Waspadai Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran di Tempat Non Bank

‘’Kalau berbicara entitas pendidian formal, maka berbatas waktunya, seperti dari jam 08.00 13,00 atau sampai sore. Sedangkan di pesantren bisa lebih lama, bahkan tidak terbatas. Disinilah pentingnya kurikulu yang disusun mengiktui perkembangan jaman sehingga pesantren tidak ketinggalan,’’ tandasnya.

Sumber: