Rabu Abu 18 Februari 2026: Kisah Awal Prapaskah Umat Katolik yang Jarang Dikupas

Rabu Abu 18 Februari 2026: Kisah Awal Prapaskah Umat Katolik yang Jarang Dikupas

Ilustrasi Rabu Abu umat Katolik-Foto : Afthon Magang-

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Rabu Abu tahun ini jatuh pada 18 Februari 2026. Bagi umat Katolik, tanggal tersebut menandai dimulainya masa Prapaskah, yakni 40 hari persiapan menuju Hari Raya Paskah. Meski dirayakan setiap tahun, tak banyak yang benar-benar memahami makna di balik tradisi ini.

Rabu Abu sering dikenal sebagai hari ketika umat menerima tanda salib dari abu di dahi. Namun, abu yang digunakan bukanlah abu biasa. Abu itu berasal dari daun palma yang diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.

Daun yang dulu dilambaikan sebagai simbol kemenangan itu kemudian dibakar dan dijadikan abu. Perubahan dari simbol sukacita menjadi abu menyimpan pesan mendalam tentang kehidupan yang sementara.


Abu yang digunakan memberi tanda salib dari daun palma yang dibakar-Foto : Afthon Magang-

Dalam perayaan misa Rabu Abu, imamnya mengucapkan salah satu dari dua kalimat saat mengoleskan abu: “Ingatlah bahwa engkau debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Kalimat ini menjadi inti refleksi: manusia diingatkan akan keterbatasannya sekaligus diberi harapan untuk memperbaiki diri.

Angka 40 dalam masa Prapaskah juga memiliki arti khusus. Dalam tradisi Kitab Suci, angka ini kerap melambangkan masa ujian dan pembentukan, seperti 40 hari Nabi Isa berpuasa di padang gurun.

BACA JUGA:Tetap Berprestasi dan Berkarier di Dunia Sepak Bola, Meski Tengah Jalankan Ibadah Puasa Ramadan

BACA JUGA:Membuat Badan Lemas Saat Puasa, Inilah Makanan yang Perlu Dihindari Ketika Sahur

Karena itu, Prapaskah dipahami sebagai periode latihan rohani,waktu untuk memperdalam doa, memperbanyak karya amal, dan melatih pengendalian diri.

Tak sedikit yang mengira puasa pada Rabu Abu sangat berat. Padahal, dalam aturan Gereja Katolik, puasa berarti makan kenyang satu kali dalam sehari, sementara pantang biasanya dilakukan dengan tidak mengonsumsi daging. Intinya bukan pada menahan lapar semata, melainkan membangun solidaritas terhadap sesama dan mengendalikan keinginan diri.


Ilustrasi peristiwa Rabu Abu-Foto : Afthon Magang-

Menariknya, Rabu Abu bukan hari libur nasional. Misa sering digelar beberapa kali, dari pagi hingga malam, agar umat tetap bisa hadir di sela aktivitas kerja. Di era digital, fenomena ini juga terlihat di media sosial. Banyak umat membagikan foto tanda abu di dahi, lengkap dengan pesan reflektif.

BACA JUGA: Sejarah Makam Krapyak: Jejak Syekh Abdul Majid, Sang Penyebar Islam di Lereng Welirang

BACA JUGA:Dampak Media Sosial pada Gaya Hidup Modern, Antara Koneksi dan Kecemasan

Sumber: