HPSN di Bulan Ramadan, WeHasta Ajak Kendalikan Diri Buang Smpah
Sisyantoko, Ketua Bank Sampah Induk Kabupaten Mojokerto mengajak puasa membuang sampah dalam Bulan Suci Ramadan sebagai bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)-dok WeHasta for Disway Mojokerto-
Mojokerto, Diswaymojokerto.id –Bulan Ramadan kali ini juga bertepatan denga peringatah Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Karena itu, Sisyantoko, Ketua Wahana Edukasi Harapan Semesta (WeHasta), mengajak masyarakat menyelaraskan peringataan HPSN dengan Bulan Ramadan memlaui kegiatan ‘puasa’ membuang sampah.
Dia menjelaskan, yang dimaksud dengan puasa membuang sampah adalah dengan lebih meningkatkan pengandalian diri dalam membuang sampah. ‘’Lebih focus dan mengendalikan pada pemilahan sampah dari rumah,’’ katanya, Miggu, 22 Februari 2026.
Cak Toko, panggilan akrabnya, menyebutkan, sampah adalah tanggung jawab Bersama. ‘’Dengan mengendalikan diri dalam membuang sampah secara otomatis menjaga lingkungan bebas dari sampah atau setidaknya mengurangi pembuangan sampah sejak dari rumah,’’ tambahnya.

Sisyantoko, Direktur WeHasta memaparkan pengelolaan sampah dan TPS3R yang ditangani WeHasta di Mojokerto. Di Bulan Ramadan ini, WeHasta mengajak pengendalian diri dalam membuang sampah-dok YBLL Mojokerto for Disway Mojokerto-
Sisyantoko yang juga Ketua Bank Sampah Induk Kabupaten Mojokerto, menuturkan, dengan memilah sampah dari rumah, maka tidak akan banyak sampah yang akan diproses di TPS atau TPA. ‘’Karena sudah dipilah dari rumah, maka jumlah di TPS akan sangat jauh berkerang,’’ sahutnya.
BACA JUGA:Modal 50.000 Bisa Healing? Cek 5 Destinasi Wisata Murah di Pacet dengan View Mewah Pegunungan
BACA JUGA:Kebakaran Hanguskan Kandang Ayam di Jatirejo Mojokerto, Ribuan Ekor Anak Ayam Terpanggang
Dia mencontohkan pengolahan sampah di TPS3R di Desa Trawas, Kecamatan Trawas yang berhasil mengurangi banhak timbunan smapah di TPA. Bahkan dengan memilah smapah dari rumah, bias diperoleh hasil samping berupa pupuk kompos yang sangat berguna.
‘’Jadi tidak ada lagi sampah yang dibuang, karena sampah organic akan diiolah kembali menjadi pupuk kompos. Sedangkan yang non organik bias dimanfaatkan untuk keperluan lain. Jadi semuanya bisa dikelola lagi sehingga sangat mengurangi tumpukan sampah di TPA,’’ sahutnya.
Menurut dia, pengelolaan sampah paling ideal memang dilakukan dari rumah melalui pemilahan sampah. Harus dipilah antara sampah organik, non organik, juga sampah plastik dan residu. ‘’Kalau sudah dipilah dari rumah, penanganan berikutnya bias dilakukan di bank sampah atau di TPS3 R yang benar-benar aktif mengelola sampah,’’ sahutnya.
Disebutkan, saat ini, selain mengupayakan pengolahan sampah melalui bekerjasama dengan berbagai pihak, WeHasta juga melakukan penanaman pohon dan pemeliharaan sumber mata air. Hal itu karena di wilayah Desa Trawas, Kecamatan Trawas, ada kekhawatiran terjadi perubahan kondisi sumber mata air akibat perkembangan kawasn Trawas menjadi kawasan wisata.
BACA JUGA:Kok Bisa Beroperasi? Dapur SPPG di Gedeg Mojokerto Berdekatan dengan Kandang Ayam
BACA JUGA:179.440 Tiket Angkutan Lebaran PT KAI Daop 8 Surabaya Telah Terjual
‘’Keberadaan mata air sangat penting. Kami tidak ingin perkembangan wilayah menjadi Kawasan parisiwata akan mempengatuhi keberadaan sumber mata air. Apalagi saat ini sudah ada indikasi terjadi perubahan kondisi lahan yang juga mengkhawatirkan,’’ sahutnya.
Sisyantoko kemudian menjelaskan, setia[ terjadi hujan lebat di Kawasan Trawas, bias dikatakan terjadi limpahan air hujan sampai ke jalan raya. Bahkan beberapa wakti lalu air mengalir dengan deras ke jaan raya karena tidak ada penahan dan tanah tidak bias menyerap air karena sudah berubah kondisinya.
Pihaknya khawatir kondisi itu akan makin parah kalua tidak ada perhatian dan penanganan dari berbagai kalangan. ‘’Sumber mata air yang baru saja kami benahi kondisinya juga diterjang banjir karena hujan deras yang turun di Kawasan Trawas,’’ sahutnya.
Sumber:




