Ruas Jalan Randegan Mojokerto Dipadati Pemburu Kuliner Jelang Berbuka
Perempatan Randegan yang selalu raau saat menjelang berbuka-Foto : Raka Magang-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Memasuki sepuluh hari kedua Ramadan, antusiasme masyarakat dalam menyambut waktu berbuka puasa semakin meningkat. Hal ini terlihat jelas di kawasan Jalan Raya Randegan, Kabupaten Mojokerto, yang berubah menjadi lautan manusia setiap sore hari.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu, 1 Maret 2026, kepadatan kendaraan dan pejalan kaki menyebabkan arus lalu lintas mengalami kemacetan cukup panjang.
Fenomena "war takjil" atau perburuan menu berbuka puasa menjadi penyebab utama melambatnya arus lalu lintas di jalur randegan tersebut. Ratusan warga tumpah ruah ke jalan demi mendapatkan berbagai kudapan, mulai dari es campur, gorengan, hingga lauk-pauk matang yang dijajakan oleh pedagang kaki lima di sepanjang bahu jalan.

Para pedagang takjil berjajar di sepanjang jalan Randegan-Foto : Raka Magang-
Kemacetan ini melibatkan para pengendara roda dua dan roda empat yang melintas, serta warga lokal dari berbagai desa di Kecamatan Dawarblandong. Tak hanya pembeli, puluhan pedagang musiman yang menggelar lapak di sisi jalan juga menjadi magnet yang menarik massa untuk berhenti, yang sayangnya sering kali dilakukan secara mendadak sehingga mengganggu aliran kendaraan.
Titik kemacetan paling parah terpantau di sepanjang Jalan Raya Randegan, tepatnya di sekitar area pasar dan pertigaan menuju arah Utara. Area ini memang dikenal sebagai pusat ekonomi kecamatan, sehingga menjadi titik kumpul alami bagi para penjual takjil setiap tahunnya.
BACA JUGA:3 Warna Cat Teras Rumah yang Tidak Cepat Kotor, Elegan, Modern, dan Tampil Bersih
BACA JUGA:Sopir Diduga Mengantuk, Truk Tangki Solar Jatuh ke Sungai di Tol Jombang-Mojokerto
Kepadatan mulai merayap sejak pukul 16.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 17.15 WIB, sesaat sebelum kumandang azan Magrib. Pada jam-jam tersebut, volume kendaraan meningkat tajam karena berbarengan dengan jam pulang kerja karyawan pabrik di sekitar wilayah tersebut.
Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya lahan parkir yang memadai. Banyak pembeli yang menghentikan kendaraannya di bahu jalan (parkir liar) untuk bertransaksi dengan pedagang. Selain itu, lebar jalan yang tidak sebanding dengan lonjakan volume kendaraan musiman ini memperparah keadaan.

Deretan para pedagang dan para pengjung pemburu takjil-Foto : Raka Magang-
Guna mengurai kemacetan, sejumlah warga tampak bersiaga di beberapa titik rawan. Mereka berupaya mengatur lalu lintas dan menghimbau para pembeli agar tidak memarkir kendaraan secara sembarangan. Meski merayap, arus lalu lintas tetap diupayakan mengalir perlahan agar tidak terjadi stagnasi total.
Keriuhan ini menunjukkan bahwa tradisi berburu takjil tetap menjadi momen yang dinanti, meski harus bersabar menembus kemacetan. Bagi Anda yang berencana melintasi jalur ini, disarankan untuk berangkat lebih awal atau mencari jalur alternatif jika ingin menghindari kepadatan.
Sumber:

