Rumah Pegadaian Dlanggu di Mojokerto, Saksi Bisu Sejarah Gadai Era Kolonial
Bangunan rumah pegadaian Dlanggu yang bertuliskan angka 1912 masih dapat dijumpai. -Foto : Fio Atmaja-
Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Sebuah bangunan tua bergaya kolonial di Jalan Raya Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, masih berdiri kokoh dengan angka tahun 1912 terpampang di fasadnya.
Rumah Pegadaian Dlanggu yang terletak tak jauh dari pasar tradisional ini merupakan salah satu peninggalan penting pemerintahan Hindia Belanda, menandai perkembangan ekonomi daerah pada masa lalu.
Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq menjelaskan, pada masa lalu Dlanggu merupakan titik persimpangan perdagangan karena adanya beberapa perusahaan besar di sekitarnya.
"Dari Dlanggu ada sarana transportasi yang menghubungkan pabrik gula (SF) Ketanen di Kutorejo, SF Pohjejer berikut pabrik tekstil Kesono dan Onderneming atau perkebunan karet Dilem di daerah Gondang," ujarnya, Minggu, 1 Maret 2026.
BACA JUGA:Selama 2025, Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Mojokerto Sebesar 5,29 Persen
BACA JUGA:Kopi Kenangan Mojokerto Andalkan Fasilitas dan Harga Ramah Kantong
Sedangkan pabrik gula Tangoenan terdapat disebelah barat Dlanggu. Semua perusahaan itu terintegrasi dengan moda transportasi kereta api. Sebuah halte kereta api berdiri tepat di depan rumah pegadaian Dlanggu.
"Dengan posisi strategis itulah pegadaian didirikan di sana untuk melayani kebutuhan finansial agar tidak terjerat praktek mindering," ungkapnya.
Untuk meningkatkan omset pinjaman, rumah gadai kemudian merekrut beberapa orang sebagai broker. Para broker itu berkeliling dari kampung ke kampung menawarkan jasa pada orang yang hendak menggadaikan barangnya.
Mereka akan mengutip upah dari jasa yang diberikannya. Broker juga bisa dimintai jasa untuk membayar cicilan ke rumah gadai. Jasa perantara atau makelar gadai menjadi sebuah profesi yang saling menguntungkan.
Penanda akselerasi ekonomi lainnya di kawasan Dlanggu adalah adanya pasar tradisional yang letaknya berdekatan dengan halte kereta api. Pasar tersebut juga menggunakan metode putaran hari pasaran Jawa.
BACA JUGA:Minta Maaf Terkait Pernyataannya Tentang Zakat, Menag: Zakat Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan
BACA JUGA:3 Masjid Menawan di Pacet dan Trawas yang terletak di Lereng Gunung Cocok untuk Itikaf
"Di saat hari pasaran yang menjadi gilirannya maka pasar akan terlihat ramai jual beli. Entah apa hari pasaran Dlanggu saat lalu. Sistem pasaran bergiliran itu biasanya menempatkan pasar kliwon sebagai pasar utama dengan dikelilingi oleh pasar pendukung yaitu pasar legi, pasar pahing, pasar pon dan pasar wage," jelasnya.
Sumber:

