Jelang Idul Fitri, Tradisi Megengan Kembali Semarak di Kampung
ziarah kubur disore hari-Foto : Habib Magang-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Menjelang datangnya Idul Fitri, tradisi megengan kembali menghidupkan suasana kampung di Dusun Kedawung, Desa Bicak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan ini digelar warga sebagai bentuk persiapan spiritual sekaligus mempererat kebersamaan menjelang hari kemenangan.
Rangkaian megengan dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 16.30 WIB, diawali dengan ziarah kubur yang dilakukan warga secara berkelompok. Sejak menjelang sore, masyarakat mendatangi makam keluarga untuk membersihkan area pemakaman dan memanjatkan doa bagi leluhur yang telah berpulang. Suasana khidmat tampak ketika doa-doa dilantunkan, menghadirkan nuansa reflektif bagi setiap warga yang hadir.
Usai ziarah kubur, warga kemudian berkumpul di mushola setempat untuk mengikuti kegiatan istighotsah. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, jamaah bersama-sama memanjatkan doa memohon ampunan dan keberkahan. Lantunan dzikir dan doa menggema, menciptakan atmosfer religius yang memperkuat nilai spiritual dalam tradisi megengan.

Warga berkumpul membawa hidangan sederhana-Foto : Habib Magang-
Tokoh agama setempat, Yanto, menyampaikan bahwa megengan bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan sesama serta dengan Tuhan.
“Megengan ini bukan hanya soal berkumpul, tetapi bagaimana kita mengingat leluhur, memperbanyak doa, dan mempererat silaturahmi. Ini juga menjadi pengingat bahwa hidup harus selalu diisi dengan kebaikan,” ujar Yanto saat ditemui di sela kegiatan.
BACA JUGA:Jari Bengkak dan Luka gara-gara Cincin Tak Bisa Dilepas, Warga Mojokerto Minta Bantuan ke Damkar
BACA JUGA:Vihara Pondok Metta Lawang Beri Layanan Singgah, Pemudik: Kami Diterima dengan Hangat
Setelah rangkaian istighotsah, kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama di mushola. Warga membawa berbagai hidangan dari rumah masing-masing dan menyusunnya secara sederhana untuk dinikmati bersama. Suasana hangat terlihat ketika anak-anak hingga orang tua duduk berdampingan tanpa sekat, menciptakan kebersamaan yang kental.
Momentum buka bersama ini menjadi ruang silaturahmi antarwarga. Selain mempererat hubungan sosial, kegiatan ini juga memperkuat nilai gotong royong yang masih terjaga di lingkungan masyarakat Dusun Kedawung. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni kehidupan sosial.

Warga istighotsah sebelum melakukan buka bersama-Foto : Habib Magang-
Menurut Yanto, keberadaan tradisi megengan harus terus dilestarikan karena memiliki nilai budaya dan religius yang tinggi. Ia berharap generasi muda dapat terus menjaga dan meneruskan tradisi ini agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Dengan rangkaian kegiatan mulai dari ziarah kubur, istighotsah, hingga buka bersama, megengan di Dusun Kedawung menjadi gambaran nyata bagaimana tradisi lokal mampu menghadirkan keseimbangan antara nilai spiritual dan sosial. Tradisi ini tidak hanya menyambut Idul Fitri, tetapi juga memperkuat ikatan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sumber:








