Guru Besar Unair Perkenalkan “Voters Engineering”, Paradigma Baru Membaca Perilaku Pemilih

Guru Besar Unair Perkenalkan “Voters Engineering”, Paradigma Baru Membaca Perilaku Pemilih

Prof Dr Muhammad Asfar Drs, MSi saat berorasi Ilmiah pada Pelantikan Guru Besar -Foto : Humas Unair-

Surabaya, diswaymojokerto.id - Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dinilai turut mengubah lanskap politik, termasuk cara memahami perilaku pemilih dalam pemilihan umum.

Menjawab dinamika tersebut, Guru Besar Ilmu Perilaku Memilih Universitas Airlangga, Muhammad Asfar, memperkenalkan paradigma baru bernama voters engineering atau rekayasa pemilih.

Gagasan tersebut disampaikan dalam pidato ilmiah pengukuhan guru besar di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Kamis 9 April 2026

Dalam pemaparannya, Prof Asfar membuka dengan analogi dunia medis. Ia mengibaratkan seorang konsultan politik layaknya dokter yang mampu mendiagnosis kondisi pasien sekaligus merancang prognosis untuk menentukan langkah penyembuhan.

Dalam konteks politik, pendekatan serupa digunakan untuk membaca peluang kemenangan kandidat bahkan sebelum hari pencoblosan.

BACA JUGA:Sinergi KKMP dan SPPG Didorong untuk Perkuat Ekonomi Warga Kelurahan

BACA JUGA:Pengemudi Diduga Mengantuk, Truk Muatan Pasir Tabrak Guardrail di Tol Jombang–Mojokerto

“Seorang konsultan politik harus mampu membaca kondisi pemilih secara tepat, seperti dokter mendiagnosis pasien. Dari situ bisa dirancang langkah strategis untuk memenangkan kontestasi,” ujarnya.

Integrasi Tiga Pendekatan

Ia menjelaskan, selama ini kajian politik elektoral cenderung terfragmentasi dalam tiga bidang utama, yakni perilaku memilih, komunikasi politik, dan pemasaran politik. Ketiganya berjalan sendiri-sendiri sehingga dinilai belum mampu menjawab kompleksitas politik di era digital.

Melalui voters engineering, ketiga pendekatan tersebut diintegrasikan dalam satu kerangka analisis yang lebih komprehensif.

Paradigma ini tidak hanya berupaya menjelaskan mengapa pilihan pemilih berubah, tetapi juga bagaimana perubahan itu dapat dipetakan, dipengaruhi, bahkan direproduksi secara sistematis.

“Paradigma ini berusaha menjawab bukan hanya ‘mengapa’ pemilih bergeser, tetapi juga ‘bagaimana’ pergeseran itu terjadi, dirancang, dan diperkuat,” jelasnya.

Perbedaan mendasar dengan pendekatan lama, lanjutnya, terletak pada cara memandang pemilih. Jika sebelumnya pemilih dianggap sebagai objek pasif, dalam paradigma baru ini pemilih justru menjadi aktor aktif yang memiliki peran penting dalam membentuk dinamika politik.

Sumber: