Sky Walk Mojokerto: Ikon yang Masih Mencari Denyut Kehidupan
Pusat kuliner di Kota Mojokerto Sky walk yang ada di area alun-alun Kota Mojokerto-Foto : Dinas Kominfo Kota Mojokerto-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Malam merambat pelan di kawasan Alun-Alun Kota Mojokerto. Lampu-lampu mulai menyala, memantulkan cahaya hangat di sepanjang jalur Sky Walk yang berdiri tak jauh dari pusat keramaian kota. Dari kejauhan, kawasan ini tampak menjanjikan, rapi, terang, dan modern. Namun ketika langkah kaki mendekat, suasana yang terasa justru berbeda.
Beberapa lapak kuliner sudah buka. Asap tipis dari wajan mengepul. Aroma makanan menggoda. Tapi kursi-kursi di depan lapak banyak yang masih kosong. Pedagang duduk, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi hanya memandangi lalu-lalang orang yang tak banyak.
“Kalau akhir pekan lumayan, tapi hari biasa begini ya sepi,” ujar seorang pedagang, membuka percakapan dengan nada datar. Ia mengaku sudah cukup lama berjualan di sana, sejak awal Sky Walk dioperasikan. Harapannya sederhana: tempat baru, konsep baru, dan peluang baru.
Namun realitas berkata lain. Pengunjung datang, tapi belum konsisten. Ada malam-malam ketika kawasan ini hidup, tapi lebih sering justru terasa lengang.

Sky Walk menjadi salah satu destinasi wisata keliling Kota Mojokerto-Foto : Dinas Kominfo Kota Mojokerto-
Sky Walk di Kota Mojokerto sejatinya dibangun bukan tanpa visi. Pemerintah kota merancangnya sebagai ikon baru, ruang publik yang tidak hanya estetik tetapi juga produktif. Ia diharapkan menjadi sentra kuliner yang menampung pelaku UMKM, sekaligus destinasi wisata malam bagi warga.
Konsepnya mengikuti tren kota-kota lain: ruang terbuka yang tertata, bersih, dan nyaman untuk keluarga. Sebuah tempat di mana orang bisa berjalan santai, menikmati makanan, dan menghabiskan waktu tanpa harus keluar kota.
Namun dalam praktiknya, ekosistem itu belum sepenuhnya terbentuk.
BACA JUGA:Unair Gelar Wisuda Periode 261, 2.605 Lulusan Siap Ukir Kiprah Global
BACA JUGA:Dua Kecamatan di Bondowoso Diterjang Hujan Angin, 12 Rumah di Empat Desa Rusak
Tak jauh dari Sky Walk, suasana di sekitar alun-alun justru jauh lebih ramai. Pedagang kaki lima berjejer di titik-titik strategis. Pengunjung berkumpul, anak-anak bermain, dan aktivitas terasa lebih hidup. Bagi banyak orang, lokasi itu lebih mudah dijangkau, langsung terlihat, tanpa harus masuk ke area tertentu.
Kondisi ini disadari betul oleh para pedagang di Sky Walk. Mereka melihat sendiri bagaimana arus pengunjung lebih banyak “tertahan” di sekitar alun-alun.
“Orang sudah nyaman di sana. Jadi tidak semua masuk ke sini,” kata pedagang lainnya.
Fenomena ini seperti membelah keramaian dalam satu kawasan. Di satu sisi, ada ruang yang dirancang modern dan terpusat. Di sisi lain, ada ruang spontan yang tumbuh alami dan justru lebih ramai.
Sumber:

