Lonjakan Harga Plastik, Peluang Diam-Diam untuk Lingkungan
Sampah plastik yang mencemari lingkungan-Andung - Disway Mojokerto-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Di tengah situasi ekonomi global yang memanas, dampaknya terasa hingga ke hal sederhana: plastik. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat jalur distribusi minyak terganggu. Penutupan Selat Hormuz ikut memicu lonjakan harga bahan baku petrokimia. Akibatnya, harga plastik pun melambung.
Bagi sebagian pelaku usaha, ini menjadi beban baru. Namun dari sudut pandang lingkungan, kondisi ini justru membuka peluang.
Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) , Rizkiy Amaliyah Barakwan, beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari laman Unair, menyampaikan fenomena ini sebagai momentum penting. Menurutnya, kenaikan harga plastik bisa mendorong masyarakat beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan.
“Wadah ramah lingkungan lebih mudah terurai. Dalam hitungan minggu bisa terdekomposisi. Ini jelas mengurangi pencemaran,” ujarnya.

Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Rizkiy Amaliyah -Foto : Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol (PHMP) Unair-
Bahan seperti daun pisang, kertas daur ulang, atau kemasan berbasis serat alami mulai dilirik kembali. Selain lebih aman bagi lingkungan, bahan ini juga meninggalkan jejak karbon yang lebih rendah. Di sisi lain, penggunaannya bisa menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari petani hingga pelaku industri kecil.
Fenomena ini juga memicu perubahan perilaku. Di media sosial, kampanye penggunaan kemasan non-plastik semakin marak. Banyak UMKM mulai beradaptasi. Mereka mencoba alternatif baru demi menekan biaya sekaligus menjawab tuntutan konsumen.
BACA JUGA: Hari Jadi ke-733 Kabupaten Mojokerto Dibuka dengan Senam Massal dan Aksi Sosial
BACA JUGA:Sky Walk Mojokerto: Ikon yang Masih Mencari Denyut Kehidupan
Menurut Rizkiy, perubahan ini penting. Sebab, gerakan keberlanjutan tidak hanya bergantung pada regulasi. Permintaan pasar punya peran besar.
“Kalau konsumen terbiasa tanpa plastik, pasar akan ikut berubah,” katanya.
Namun, peluang ini tidak datang tanpa tantangan. Peralihan ke kemasan ramah lingkungan harus dibarengi sistem yang baik. Standarisasi, edukasi, hingga jaminan higienitas menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Komposisi sampah berdasarkan jenis sampah. Sampah plastik menempati posisi ke dua. Namun, terurai paling lama, keberadaan sampah plastik menjadi dominan-dok Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto for Disway Mojokerto-
Tanpa itu, solusi yang diharapkan justru bisa menimbulkan masalah baru.
Sumber:

