Menag : Pesantren, Tempat Ilmu dan Cara Hidup Ditempa
Menag RI Nasaruddin Umar memberikan bantuan untuk Ponpes Zainul Hasan Genggong sebesar Rp 75 juta-Foto : Humas Kemenag RI-
Probolinggo, diswaymojokerto.id - Di tengah suasana tenang Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong,Probolinggo, Jawa Timur, para santri tampak menjalani aktivitas seperti biasa mengaji, berdiskusi, dan berbaur dalam ritme kehidupan yang sederhana namun penuh makna. Di tempat inilah, pendidikan tak hanya soal ilmu, tetapi juga tentang membentuk cara hidup.
Pesan itu ditegaskan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat berkunjung pada Jumat 17 April 2026. Ia menyebut pesantren memiliki kekhasan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain, terutama dalam memadukan ilmu pengetahuan dengan dimensi spiritual.
BACA JUGA:Peran Paralegal Diperkuat, Warga Kota Mojokerto Diajak Selesaikan Masalah Tanpa Harus ke Pengadilan
BACA JUGA:Hilang Saat Bermain di Halaman Rumah, Bocah 5 Tahun di Situbondo Ditemukan Tewas di Sungai
“Di pesantren, proses belajar tidak hanya berfokus pada ilmu dari guru, tetapi juga pada upaya mendekatkan diri kepada Allah. Di situlah letak kekhasannya, ada dimensi spiritual yang menyatu dalam proses pendidikan,” ujarnya.
Bagi Nasaruddin, pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi ruang pembentukan karakter yang utuh. Santri tidak hanya diajarkan memahami pelajaran, tetapi juga ditempa untuk hidup mandiri, disiplin, dan berakhlak.

Menag RI Nasaruddin Umar bersama salah satu santri di Ponpes Genggong Probolinggo-Foto : Humas Kemenag RI-
“Di sini para santri belajar kemandirian, kedisiplinan, dan akhlak. Nilai-nilai ini sering kali tidak sepenuhnya ditemukan dalam sistem pendidikan formal,” lanjutnya.
Kehidupan di pesantren memang berjalan dalam ritme yang berbeda. Dari bangun sebelum fajar, belajar hingga larut malam, hingga kebersamaan yang terjalin di asrama semuanya menjadi bagian dari proses panjang membentuk kepribadian.
Menag pun mengajak para santri untuk tidak ragu merasa bangga dengan identitas tersebut. Menurutnya, menjadi santri adalah sebuah keistimewaan, karena mereka ditempa tidak hanya untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
BACA JUGA:Rekor Baru di Unej Lulusan Magister Tembus 100 Orang, Sinyal Kuat Menuju Kampus Riset
“Menjadi santri adalah sebuah kebanggaan. Di pesantren, kita tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga membangun karakter dan pemahaman hidup yang utuh,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian Agama turut menyerahkan bantuan sebesar Rp75 juta kepada pihak pesantren. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat fasilitas dan kualitas pendidikan, sehingga pesantren terus mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.
Sumber:

