UMKM Herbal di Persimpangan Digital, Bertahan atau Tertinggal? Ini Temuan Riset Terbaru
BRI dukung UMKM Kamandalu Ashitaba untuk go international di pasar herbal.-Foto : Harian Disway-
Surabaya, diswaymojokerto.id - Transformasi digital kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata bagi pelaku usaha, termasuk sektor herbal. Perubahan perilaku konsumen yang semakin akrab dengan teknologi memaksa pelaku UMKM untuk beradaptasi, jika tidak ingin tertinggal dalam persaingan pasar yang kian ketat.
Hal inilah yang menjadi fokus penelitian yang dipimpin oleh Idha Kusumawati, guru besar bidang fitofarmasetikal dari Universitas Airlangga. Bersama timnya, ia memotret langsung kondisi pelaku usaha herbal di Jawa Timur dalam menghadapi gelombang digitalisasi.
Hasilnya cukup tegas: transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi keharusan agar usaha tetap bertahan dan berkembang.
BACA JUGA:Maraknya Aksi Bunuh Diri di Jembatan Cangar, Petugas Bakal Intensifkan Patroli
BACA JUGA:500 Warga Kembali Melihat: Kolaborasi RI–UEA Hadirkan Operasi Katarak Gratis hingga Pelosok
Di lapangan, pelaku usaha herbal menunjukkan karakter yang beragam. Mulai dari skala rumah tangga hingga industri besar, masing-masing memiliki pendekatan berbeda terhadap digitalisasi.
UMKM kecil cenderung lebih lincah dan berani mencoba platform digital seperti media sosial. Sebaliknya, usaha yang lebih besar cenderung lebih hati-hati karena mempertimbangkan kesiapan produksi dan sumber daya.
Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar pelaku usaha sudah mulai memanfaatkan platform digital seperti Instagram, WhatsApp, hingga marketplace. Kehadiran platform ini terbukti mampu memperluas jangkauan pasar secara signifikan, bahkan menembus batas geografis.

Digitalisasi produk UMKM Herbal-Foto : Website Unair-
Namun, tidak semua pelaku usaha mampu memaksimalkan peluang tersebut. Masih banyak yang kesulitan dalam mengelola pemasaran digital secara efektif. Kesenjangan kemampuan digital menjadi salah satu tantangan utama yang terungkap dalam penelitian ini.
Selain itu, keterbatasan literasi digital dan sumber daya menjadi hambatan klasik. Banyak pelaku usaha belum terbiasa membuat konten menarik, memahami algoritma platform, atau menyusun strategi pemasaran yang tepat. Di sisi lain, keterbatasan modal juga membuat mereka sulit mengembangkan sistem digital yang lebih profesional.
BACA JUGA:Jatim Tancap Gas! Koperasi Desa Jadi Senjata Andalan, Bawa Pulang Penghargaan Nasional 2026
BACA JUGA:Trowulan, Saksi Sejarah Lahirnya Partai Politik Bentukan Bung Tomo
Masalah lain yang tak kalah menarik adalah kekhawatiran sebagian pelaku usaha ketika permintaan meningkat drastis akibat pemasaran digital. Alih-alih senang, mereka justru khawatir tidak mampu memenuhi permintaan karena keterbatasan bahan baku dan kapasitas produksi. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak bisa berdiri sendiri—harus diimbangi kesiapan dari sisi produksi.
Sumber:

