Anak Sekolah, Dunia Digital, dan Pilihan Hidup: Bakesbangpol Jember Datang Bawa Bekal
Bakesbangpol Jember Masuk Sekolah ke SMP Ad Dhuha Jember-Foto : dok. Infokom Jember-
Jember, Diswaymojokerto.id - Di sebuah ruang kelas di Jember, Kamis pagi itu, suasananya tidak seperti biasanya. Bukan pelajaran matematika atau bahasa yang dibahas, melainkan hal yang lebih dekat dengan kehidupan para siswa: bagaimana menjadi remaja yang tidak sekadar “ikut arus” di tengah derasnya zaman.
Program “Bakesbangpol Masuk Sekolah” yang digelar di SMP Adh Dhuha Jember terasa seperti ruang dialog. Para siswa tidak hanya mendengarkan, tapi juga diajak berpikir tentang masa depan mereka sendiri.
Kepala sekolah, Moh. Warits, menyambut kegiatan ini dengan antusias. Baginya, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tapi juga tempat membentuk cara pandang hidup.
“Anak-anak hari ini hidup di dunia yang berbeda. Mereka butuh bekal, bukan hanya pengetahuan, tapi juga arah,” kira-kira itulah pesan yang terasa dari sambutannya.

Para siswa SMP Ad Dhuha Jember sebelum mendengarkan materi dari Bakesbangpol Jember-Foto : dok. Infokom Jember-
Dari pihak pemerintah, M. Syamsu Rijal dari Bakesbangpol Jember menegaskan satu hal penting: masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda hari ini. Ia mengaitkan hal itu dengan visi Indonesia Emas 2045 sebuah cita-cita besar yang tidak akan tercapai tanpa anak-anak muda yang tangguh.
Namun, yang menarik, pembahasan tidak berhenti pada hal-hal besar dan abstrak.
Para narasumber justru membawa isu-isu yang sangat dekat dengan kehidupan remaja. Gogot Cahyo Baskoro, misalnya, mengajak siswa lebih bijak dalam bermedia sosial. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang ramai layak diikuti.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Tanda Tangan, RI–UNICEF Siapkan ‘Mesin Baru’ Perkuat Kesehatan Nasional hingga 2030
BACA JUGA:May Day di Jember: Hangat, Guyub, dan Ramah Investasi
Di tengah era serba cepat, kemampuan menyaring informasi menjadi penting. “Jangan mudah terpancing,” menjadi pesan sederhana tapi relevan.
Dari sisi lain, Kompol Totok Suhartono dari Densus 88 Jawa Timur mengangkat isu yang mungkin jarang dibicarakan di ruang kelas: radikalisme. Bukan dengan menakut-nakuti, tapi dengan memberi pemahaman bahwa sikap intoleran bisa tumbuh dari hal kecil dari cara berpikir yang sempit dan menolak perbedaan.
Sementara itu, dari jajaran Polres Jember, Iptu Bagus Dwi Setyawan dan Iptu Enol Wibisono berbicara blak-blakan soal narkoba. Tidak bertele-tele, mereka mengingatkan bahwa ancaman itu nyata dan sering kali justru datang dari lingkungan terdekat.
Pesan mereka sederhana: berani berkata “tidak” adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan.
Sumber:

