Waspada Hantavirus, Epidemiolog Unair Ingatkan Ancaman Penyakit dari Hewan
Muncul virus bernama Hantavirus yang ditularkan hewan pengerat seperti tikus, atau pengerat lainnya-Foto : Humas Unair-
Surabaya, diswaymojokerto.id - Merebaknya dugaan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia kesehatan internasional. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara. Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, menjelaskan bahwa kemunculan kasus hantavirus di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar kemungkinan besar bukan berasal dari penularan mendadak di kapal.
Menurutnya, pasien bisa saja telah terpapar virus sebelum perjalanan dimulai atau saat berada di wilayah yang memiliki populasi hewan pengerat pembawa virus.
BACA JUGA:Tangis Haru Iringi Keberangkatan 374 Jemaah Calon Haji Mojokerto ke Tanah Suci
BACA JUGA:143 Lembaga Zakat Bakal Diaudit Syariah, Kemenag Perketat Pengawasan Dana Umat
“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Karena itu, gejala baru bisa muncul ketika seseorang sudah berpindah lokasi,” jelas Laura, Jumat 8 Mei 2026.
Ia mengatakan, tingginya mobilitas manusia melalui perjalanan internasional membuat pelacakan sumber penularan menjadi lebih sulit. Seseorang dapat terinfeksi di satu negara, namun baru menunjukkan gejala saat berada di tempat lain.
Hantavirus sendiri merupakan virus yang ditularkan melalui tikus atau hewan pengerat lain yang terinfeksi. Penularan terjadi melalui partikel dari urin, air liur, atau feses hewan yang mengering lalu terhirup manusia. Karena itu, seseorang tidak harus bersentuhan langsung dengan tikus untuk bisa tertular.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani-Foto : Humas Unair-
“Paparan partikel terkontaminasi di udara sudah cukup menyebabkan infeksi,” ujarnya.
Laura menjelaskan, lingkungan dengan populasi tikus tinggi dan sanitasi buruk menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko penyebaran hantavirus. Aktivitas manusia di wilayah baru, termasuk wisata alam dan ekowisata, juga dinilai memperbesar peluang kontak dengan sumber penyakit zoonosis.
Selain itu, perubahan iklim dan kerusakan habitat hewan disebut ikut memengaruhi persebaran penyakit. Perubahan lingkungan membuat hewan pengerat berpindah ke wilayah yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.
BACA JUGA:Pelunasan PBB hingga Pernikahan Dini Jadi Sorotan dalam Sosialisasi Sadar Hukum
Sumber:

