Diam Tanpa Musik, Tim Tari FTP Unej Cetak Prestasi Nasional

Diam Tanpa Musik, Tim Tari FTP Unej Cetak Prestasi Nasional

Tim UKM-K Dolanan UNEJ, Juara 3 iFORTE National Dance Competition-Foto : Humas Universitas Jember-

Jember, diswaymojokerto.id - Keheningan  menjadi senjata utama tim tari UKM-K Dolanan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Alih-alih selalu berlatih dengan musik, para penari kerap mengandalkan rasa, kekompakan, dan penghayatan gerak untuk membangun harmoni di atas panggung.

Metode latihan yang tak biasa itu menjadi salah satu kunci keberhasilan UKM-K Dolanan FTP Unej hingga mampu meraih Juara 3 dalam ajang National Dance Competition pada Januari 2026 lalu.

Berbeda dari kelompok tari pada umumnya, anggota UKM-K Dolanan rutin menjalani latihan tanpa iringan musik. Cara tersebut dilakukan agar setiap penari lebih peka terhadap perpindahan gerak, tempo tubuh, hingga ekspresi yang ditampilkan.

Selain latihan teknis, mereka juga membangun budaya evaluasi terbuka usai latihan. Setiap anggota bebas memberi maupun menerima masukan demi memperkuat kekompakan tim.


Penampilan Tim UKM-K Dolanan UNEJ yang mengusung tema Sabang hingga Merauke-Foto : Humas Universitas Jember-

Untuk membentuk mental tampil, tim juga rutin menggelar sesi full run yang mensimulasikan kondisi panggung sebenarnya. Dalam sesi ini, penari dituntut tampil penuh energi dan fokus layaknya saat kompetisi berlangsung.

Tak hanya mengandalkan teknik, UKM-K Dolanan juga membawa konsep keberagaman budaya Indonesia dalam setiap penampilannya. Mereka memadukan unsur gerak dari delapan daerah berbeda di Indonesia dalam satu alur tarian.

“Konsepnya keberagaman, jadi tiap gerakan itu mewakili karakter daerah yang berbeda, tapi tetap disatukan dalam satu alur yang utuh,” ujar Diah Ayuk Wulandari, salah satu anggota tim.

BACA JUGA:20 Finalis Gus & Yuk Kota Mojokerto 2026 Resmi Diumumkan, Siap Jadi Wajah Pariwisata Kota

BACA JUGA:Sejarah Runtuhnya Pabrik Gula di Mojokerto, dari Masa Kejayaan hingga Taktik Bumi Hangus

Konsep tersebut menjadi simbol persatuan budaya dari Sabang hingga Merauke tanpa menghilangkan identitas masing-masing daerah.

Di balik penampilan yang harmonis, para anggota mengaku harus melewati proses panjang yang tidak mudah. Jadwal latihan padat, rasa lelah, hingga kejenuhan sempat membuat mereka hampir menyerah.

Namun dukungan emosional antaranggota menjadi alasan utama mereka tetap bertahan dan terus berkarya bersama.

Momentum Hari Tari Sedunia juga dimaknai para anggota sebagai pengingat pentingnya menjaga budaya melalui karya seni. Diah menilai generasi muda memiliki peran besar dalam mengenalkan tari tradisional kepada masyarakat luas, termasuk melalui media sosial.

Sumber: