Waisak 2026, Menag Ajak Umat Buddha Tebarkan Cinta Kasih dan Rawat Perdamaian

Waisak 2026, Menag Ajak Umat Buddha Tebarkan Cinta Kasih dan Rawat Perdamaian

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar -Foto : Humas Kemenag RI-

Jakarta, diswaymojokerto.id Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Buddha menjadikan peringatan Hari Tri Suci Waisak 2570 Buddhis sebagai momentum memperkuat nilai-nilai kebajikan, mempererat persaudaraan, serta menjaga perdamaian di tengah berbagai tantangan global.

Pesan tersebut disampaikan Menag bertepatan dengan peringatan Hari Tri Suci Waisak 2026 yang mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini yang masih diwarnai berbagai konflik dan perpecahan.

Nasaruddin menjelaskan, Dharma tidak hanya dimaknai sebagai ajaran keagamaan, tetapi juga pedoman hidup yang menuntun manusia untuk tetap berpegang pada nilai kebenaran, moralitas, dan kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Dharma bukan sekadar ajaran, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia untuk tetap teguh dalam nilai-nilai kebenaran, moralitas, dan kebijaksanaan. Termasuk dalam menjaga perdamaian dunia,” ujar Nasaruddin dalam pesan Waisak yang disampaikan melalui rilis Kemenag di Jakarta, Minggu 31 Mei 2026.

BACA JUGA:Pelemahan Rupiah Tekan Pengusaha Percetakan di Mojokerto, Bahan Baku Plastik Ikut Melonjak

BACA JUGA:Dapur Rumah di Mojosari Terbakar Saat Malam Hari, Damkar Berpacu Jinakkan Api dalam 13 Menit

Ia menilai upaya menciptakan perdamaian dunia sejatinya berawal dari diri setiap individu. Karena itu, nilai cinta kasih yang diajarkan Buddha menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun antarbangsa.

Menurutnya, semangat hidup berdampingan dalam keberagaman juga sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia yang menempatkan perdamaian dan keadilan sosial sebagai bagian dari tujuan bernegara.

Sebagai Menteri Agama, Nasaruddin menegaskan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin setiap warga negara dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya dengan aman dan nyaman. Namun, menjaga kerukunan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

“Merawat harmoni adalah tanggung jawab kita bersama sebagai sesama anak bangsa,” katanya.

BACA JUGA:Peserta Heritage Fun Run Tumbang di Kilometer 3, Ribuan Pelari Meriahkan HUT ke-733 Kabupaten Mojokerto

BACA JUGA:Ribuan Buruh Rayakan May Day di Kota Mojokerto, Harapan Kerja dan Kesejahteraan Mengemuka

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa seluruh agama pada hakikatnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Karena itu, kehidupan beragama semestinya menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan persatuan, bukan sebaliknya.

Ia menilai kebijaksanaan yang diajarkan dalam agama Buddha selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi dasar kehidupan bersama di tengah masyarakat yang majemuk.

Sumber: