Peneliti Unej Temukan Tanaman Hutan yang Mampu Turunkan Gula Darah

Peneliti Unej Temukan Tanaman Hutan yang Mampu Turunkan Gula Darah

Prof. Ari Satia Nugraha, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Jember, memberikan penjelasan mengenai hasil riset tanaman Tawas Ut asal Kalimantan yang berpotensi dikembangkan sebagai antidiabetes alami.-Foto : Humas Universitas Jember-

Jember, diswaymojokerto.id - Di tengah hutan Kalimantan yang lebat, tumbuh sebuah tanaman merambat yang selama ini hanya dikenal oleh masyarakat Dayak. Namanya Ampelocissus rubiginosa lauterb. Di kalangan warga lokal, tanaman ini disebut Tawas Ut atau Panamar Peri, dan telah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Selama berabad-abad, khasiat tanaman itu hidup dari cerita turun-temurun. Namun kini, pengetahuan leluhur tersebut mendapat pembuktian ilmiah.

Tim peneliti Fakultas Farmasi Universitas Jember (Unej) berhasil mengungkap bahwa akar Tawas Ut memiliki potensi luar biasa sebagai antidiabetes. Bahkan, dalam pengujian laboratorium, efektivitasnya dalam menghambat enzim pemecah gula tercatat hampir lima kali lebih kuat dibandingkan Acarbose, salah satu obat diabetes yang umum digunakan.

BACA JUGA:Libur Panjang, Stasiun Mojokerto Layani Lebih dari 9 Ribu

BACA JUGA:Kebakaran di Mojokerto Meningkat di Bulan Mei, Didominasi Tempat Usaha, Kandang Ternak, dan Rumah

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian panjang yang melibatkan kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), James Cook University Australia, serta University of Wollongong Australia. Hasil risetnya dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Biologically Active Products from Nature pada Desember 2025.

Temuan ini menjadi semakin penting karena Indonesia sedang menghadapi lonjakan kasus diabetes. Saat ini, sekitar 19,5 juta penduduk hidup dengan penyakit tersebut. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia.

Di sisi lain, biaya pengobatan diabetes tidaklah murah. Negara harus mengeluarkan dana hingga Rp95 triliun untuk pembiayaan pengobatan, sementara sebagian besar bahan baku obat masih bergantung pada impor.

Kondisi itulah yang mendorong Prof. Ari Satia Nugraha, Dekan Fakultas Farmasi Unej, untuk mencari alternatif dari kekayaan alam Indonesia sendiri.

“Diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Sementara Indonesia memiliki ribuan tanaman obat yang belum banyak diteliti,” ujarnya.


Ilustrasi hasil penelitian tim Fakultas Farmasi Universitas Jember mengenai potensi antidiabetes tanaman Tawas Ut asal Kalimantan.-Foto : Humas Universitas Jember-

Perjalanan penelitian Tawas Ut ternyata tidak berlangsung singkat.

Sampel pertama tanaman ini diperoleh dari Kalimantan pada tahun 2015. Sejak saat itu, tim peneliti memulai perjalanan panjang yang memakan waktu hampir satu dekade. Mereka melakukan berbagai tahapan penelitian, mulai dari identifikasi senyawa aktif, pengujian laboratorium, hingga uji pada hewan percobaan.

Bentuk akar Tawas Ut sendiri cukup unik. Sekilas menyerupai singkong atau ketela. Namun ketika mengering, teksturnya berubah sangat keras, bahkan menyerupai kayu jati. Karena itu, akar harus segera diproses saat masih segar.

Sumber: