Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Unair Ingatkan Ancaman Sampah dan Perubahan Iklim
Sampah plastik, popok, pencemar lingkungan-Andung - Disway Mojokerto-
Surabaya, diswaymojokerto.id - Persoalan lingkungan tidak lagi sebatas tumpukan sampah yang terlihat di sekitar kita. Di balik itu, ada ancaman yang jauh lebih kompleks, mulai dari krisis energi, perubahan iklim, hingga pencemaran mikropolutan yang perlahan dapat memengaruhi kualitas hidup manusia.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga lingkungan. Tahun ini, tema yang diangkat adalah climate action atau aksi iklim, yang mendorong berbagai pihak mengambil langkah nyata menghadapi dampak perubahan iklim.
Pakar lingkungan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), Nur Indradewi Oktavitri, menilai kondisi lingkungan saat ini perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, sementara ketersediaan sumber energi konvensional semakin terbatas.

Warga membersihkan sampah plastik yang mencemari sungai-Foto : DLH Kabupaten Mojokerto for Disway Mojokerto-
"Kebutuhan energi terus bertambah, sementara sumber daya yang tersedia tidak selalu mampu mengimbangi. Karena itu, pengembangan energi alternatif perlu menjadi perhatian bersama," ujarnya, Mingggu 7 Juni 2026
Dosen Program Studi Teknik Lingkungan yang akrab disapa Nio itu menyebut pemanfaatan energi terbarukan, seperti tenaga surya maupun pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif, dapat menjadi salah satu solusi yang layak dikembangkan di masa depan.
BACA JUGA:Sekolah Lapang Proyek MEWLAFOR, Bahas Pemasaran Hasil Hutan Bukan Kayu di 5 Kecamatan
BACA JUGA:Menjaga Tetap Sehat di Usia Senja, Lansia Jember Antusias Ikuti Skrining Gratis
Selain persoalan energi, Nio menyoroti meningkatnya volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah berpotensi mencemari udara, air, dan tanah serta menimbulkan berbagai dampak lingkungan dalam jangka panjang.
Salah satu persoalan yang kini semakin mengkhawatirkan adalah keberadaan mikroplastik. Partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut telah ditemukan di berbagai komponen lingkungan, mulai dari perairan hingga udara yang dihirup manusia.

Sachet plastik mendominasi sampah plastik di sungai-Foto : istimewa-
"Contohnya saat ini mikroplastik sudah banyak mencemari udara maupun air. Jika tidak ditangani secara serius, kondisi ini dapat memengaruhi keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia di masa mendatang," katanya.
Menurut Nio, akar persoalan tersebut tidak lepas dari budaya pengelolaan sampah yang masih belum optimal. Kesadaran masyarakat untuk memilah, mengurangi, dan mengelola sampah sejak dari rumah menjadi salah satu kunci untuk mengurangi pencemaran lingkungan.
BACA JUGA:Tak Hanya Melayani, 22 Ribu ASN Jember Diajak Jadi Duta Informasi Daerah
Sumber:

