SEEDTISS, Tisu Ramah Lingkungan yang Punya 'Kehidupan Kedua'
Mahasiswa Fakultas Pertanian, Program Studi Agroteknologi menghadirkan gagasan inovatif bertajuk SEEDTISS, sebuah tisu dapur biodegradable berbahan limbah jerami padi yang terintegrasi benih bayam-Foto : Humas Universitas Jember-
Jember, diswaymojokerto.id - Berangkat dari persoalan limbah jerami yang melimpah dan tingginya penggunaan tisu berbahan kayu, tiga mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) menghadirkan inovasi unik bernama SEEDTISS, tisu dapur biodegradable berbahan jerami padi yang dapat ditanam setelah digunakan.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Tim "Kita Bisa" yang beranggotakan Arinta Marwah Nur Baiti, Destia Keke Rizky, dan Fajriyanti Azizah. Produk ini mengusung konsep dua fungsi dalam satu produk: digunakan sebagai tisu dapur, lalu ditanam untuk menumbuhkan bayam karena di dalam serat tisunya telah terintegrasi benih tanaman.
"Melalui SEEDTISS, kami ingin menghadirkan solusi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi tetap memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat," ujar Fajriyanti Azizah.

Tim -Foto : Humas Universitas Jember-
Jerami dipilih sebagai bahan baku karena jumlahnya melimpah di daerah pertanian, namun sering kali hanya dibakar setelah panen sehingga menimbulkan polusi udara. Padahal, kandungan selulosa pada jerami cukup tinggi dan berpotensi menjadi bahan alternatif pembuatan tisu ramah lingkungan.
Selain memiliki daya serap yang baik dan mudah terurai secara alami, SEEDTISS juga mengusung konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah. Keunggulan lainnya, tisu yang telah digunakan dapat ditanam di tanah atau pot sehingga benih bayam yang tersimpan di dalamnya dapat tumbuh menjadi tanaman pangan untuk kebutuhan rumah tangga.
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Hapus Denda Pajak hingga 30 Agustus, BPHTB Diskon 50 Persen
Inovasi tersebut mengantarkan Tim "Kita Bisa" meraih Juara I IGNITE National Essay Competition 2026. Prestasi ini menjadi bukti bahwa gagasan berbasis potensi lokal mampu bersaing di tingkat nasional.
Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi tantangan membagi waktu antara pembuatan prototipe, persiapan presentasi final, dan berbagai tugas perkuliahan. Namun semangat yang tercermin dalam nama tim "Kita Bisa" menjadi motivasi untuk terus melangkah hingga meraih kemenangan.
Selama kompetisi, tim mendapat pendampingan dari Dr. Agus Wedi Pratama selaku dosen pembimbing serta dukungan Fakultas Pertanian berupa bantuan transportasi dan konsumsi saat mengikuti kompetisi di Universitas Diponegoro.
BACA JUGA:Dari Limbah Jadi Camilan Kekinian, Mahasiswa Unej Ciptakan ChocoCara Bar Berbahan Kulit Kopi
BACA JUGA:Penutupan Jembatan Warutunggal Pungging Mojokerto, Bus Trans Jatim Koridor VI Lakukan Penyesuaian
Ke depan, mereka berharap SEEDTISS dapat dikembangkan menjadi produk nyata yang mendukung pengelolaan limbah pertanian sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup berkelanjutan.
Sumber:
