'Membunuh' Industri Hasil Tembakau Indonesia Bukan Lab Agenda Global

'Membunuh' Industri Hasil Tembakau Indonesia Bukan Lab Agenda Global

Sefdin Alamsyah-Foto : dok Pribadi-

OPINI

Oleh: S. Alamsyah*)

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Dunia sedang berubah. Cepat sekali.

Selama puluhan tahun, globalisasi dianggap sebagai resep pembangunan yang paling benar. Negara-negara berkembang didorong mengikuti aturan yang sama. Kebijakan yang dianggap berhasil di satu negara seolah harus diterapkan di semua negara.

Kini pandangan itu mulai bergeser. Amerika Serikat kembali melindungi industrinya. Uni Eropa memberikan subsidi besar kepada sektor-sektor strategis. 

Banyak negara tidak lagi malu mendahulukan kepentingan nasional dibanding mengikuti resep global.

Ekonom Harvard, Dani Rodrik, sudah mengingatkan hal itu. Menurutnya, tidak ada satu model pembangunan yang cocok untuk semua negara. Sama persis dengan doktrin: There’s no one size fit for all. 

Setiap negara memiliki sejarah, struktur ekonomi, budaya, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, kebijakan publik juga harus berbeda.

BACA JUGA:Ramp Check di Terminal Kertajaya Mojokerto, Sopir Bus Diingatkan Tak Ugal-ugalan Demi Keselamatan Penumpang

BACA JUGA:TPK Hotel di Mojokerto Mengalami Kenaikan pada Mei 2026

Singkatnya, pembangunan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Bukan sekadar meniru negara lain.

Ironisnya, ketika banyak negara semakin percaya diri membela kepentingan nasionalnya, Indonesia justru terlihat semakin rajin mengikuti agenda global. 

Salah satunya adalah rencana penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan tentang penerapan kemasan rokok polos atau plain packaging, larangan bahan tambahan, dan rencana penerbitan Peraturan Menteri Koordinator PMK tentang ambang batas kadar nikotin dan tar.

Pertanyaannya sederhana.

Sumber: