Buah Pinang: Warisan Tradisi yang Menyimpan Manfaat, tapi Tak Lepas dari Risiko Kesehatan

Buah Pinang: Warisan Tradisi yang Menyimpan Manfaat, tapi Tak Lepas dari Risiko Kesehatan

Di balik perannya sebagai warisan budaya, buah pinang juga menyimpan potensi manfaat sekaligus risiko kesehatan yang perlu dipahami-Foto : Sandra/ Magang (Ilustrasi AI)-

Mojokerto. diswaymojokerto.id - Buah pinang (Areca catechu) telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, buah ini identik dengan tradisi menyirih, upacara adat, hingga pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, di balik citranya sebagai tanaman herbal, para ahli mengingatkan bahwa buah pinang tidak hanya menawarkan potensi manfaat, tetapi juga menyimpan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.

Tanaman pinang tumbuh subur di kawasan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pohonnya menjulang hingga belasan meter dengan buah yang berubah warna dari hijau menjadi jingga kemerahan saat matang.

BACA JUGA:Menteri Lingkungan Hidup Terpikat ITS COMPOStech, Rektor Siap Produksi Massal

BACA JUGA:Kasus HIV di Kabupten Mojokerto Tembus Hingga 1.624 Orang

Selain memiliki nilai budaya dan ekonomi, buah pinang juga menarik perhatian dunia medis karena mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, tanin, polifenol, dan antioksidan.

Beragam kandungan tersebut membuat buah pinang terus diteliti untuk mengetahui manfaatnya bagi kesehatan. Sejumlah penelitian awal menunjukkan adanya potensi sebagai antioksidan yang dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, salah satu faktor yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronis.


Buah pinang (Areca catechu) merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur di Indonesia-Foto : Sandra/ Magang /halosehat-

Menurut dr. Dyah Novita, dokter umum yang meninjau artikel kesehatan di KlikDokter, buah pinang memang memiliki sejumlah senyawa aktif yang berpotensi memberikan manfaat.

Namun, hingga kini bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas sehingga masyarakat tidak disarankan menjadikannya sebagai pengganti pengobatan medis.

Selain berpotensi sebagai sumber antioksidan, buah pinang juga diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang diyakini dapat membantu menjaga kesehatan rongga mulut.

BACA JUGA:Belanja APBD Kota Mojokerto 2027 Diproyeksi Rp888,6 Miliar, Pendidikan dan Infrastruktur Jadi Prioritas

BACA JUGA:Konferensi Sungai Indonesia Digelar di Mojokerto, Menteri LH Ajak Masyarakat Berhenti Membelakangi Sungai

Dalam praktik pengobatan tradisional, buah ini kerap digunakan untuk membantu mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab gangguan pada gigi dan gusi.

Sumber: