Sound Horeg Tembus 120 Desibel, Pakar Unair Ingatkan Risiko Tuli hingga Vertigo
Ilustrasi sound horeg-Foto : Ilustrasi AI/Elsa Fifajanti-
Surabaya, diswaymojokerto.id – Dentuman sound horeg yang kerap memeriahkan perayaan Agustusan ternyata bukan sekadar persoalan kenyamanan. Paparan suara dengan intensitas sangat tinggi berisiko mengganggu pendengaran, bahkan dapat memicu gangguan keseimbangan tubuh.
Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr Rosa Falerina SpTHT BKL Subsp NO K, mengatakan intensitas suara sound horeg dapat berada di atas 120 desibel. Paparan suara sekeras itu berpotensi merusak koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam, termasuk sel-sel rambut yang berperan penting dalam proses pendengaran.
“Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak atau tumbang. Jika sel-sel rambut ini rusak, suara tidak akan memiliki jalan lagi untuk sampai ke otak,” ujar Rosa seperti dikutip dari Website Unair, Minggu 23 Agustus 2026
BACA JUGA:Tak Sekadar Jual Cacing, Mahasiswa Unej Kembangkan TerraFarm hingga Pasar Kalimantan
Salah satu tanda awal yang sering muncul setelah terpapar suara keras adalah telinga berdenging atau tinnitus. Menurut Rosa, kondisi tersebut merupakan alarm alami tubuh yang menunjukkan adanya gangguan pada sel rambut di telinga dalam.
Jika paparan berlangsung singkat dan seseorang segera menjauh dari sumber suara, pendengaran masih memungkinkan untuk pulih. Namun, apabila paparan berlangsung lama dan denging menetap, kerusakan pendengaran berisiko menjadi permanen.

Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr Rosa Falerina SpTHT BKL Subsp NO K,-Foto : Website Unair-
Risiko tidak hanya berkaitan dengan pendengaran. Dentuman sub-bass atau frekuensi rendah yang sangat kuat juga dapat memengaruhi sistem keseimbangan tubuh karena organ pendengaran dan keseimbangan berada di bagian telinga dalam yang berdekatan.
“Dentuman yang sangat kuat tak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga menyenggol sistem keseimbangan sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo,” katanya.
Rosa bahkan pernah menangani pasien ibu dan anak yang mengalami penurunan pendengaran serta telinga berdenging berkepanjangan setelah sound horeg melintas di depan rumah mereka.
BACA JUGA:Tumpukan Minyak Diduga Jadi Pemicu, KDMP di Dlanggu Mojokerto Terbakar
BACA JUGA:Lomba 17-an, Kodaeral IX Gelar Tarik Tambang hingga Balap Karung
Karena itu, masyarakat yang mengalami penurunan pendengaran atau denging hebat setelah terpapar suara keras disarankan segera memeriksakan diri ke dokter THT. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi telinga sekaligus memastikan tidak terjadi kerusakan lain, termasuk pada gendang telinga.
Sumber:



