Antrean BBM Mengular di Jember, Bukan Stok Habis tapi Distribusi Terganggu
Antrean BBM di sebuah SPBU di Jember-Foto : Istimewa-
Jember, diswaymojokerto.id - Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Jember dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat warga harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Namun, antrean panjang itu bukan disebabkan oleh habisnya stok BBM secara nasional. Pemerintah Kabupaten Jember menyebut persoalan utama berada pada jalur distribusi pasokan menuju wilayah Jember.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, pasokan BBM untuk Jember secara umum masih tersedia. Gangguan terjadi pada proses pengiriman BBM dari depo Banyuwangi menuju sejumlah wilayah di kawasan Tapal Kuda.
BACA JUGA:Pria Ditemukan Meninggal di Rumah Temannya di Pungging Mojokerto
BACA JUGA:Lima Syarat Ini Harus Dipenuhi Kelurahan di Kota Mojokerto untuk Raih Predikat Sadar Hukum
Menurut Fawait, kendala teknis pada jalur distribusi tersebut bahkan telah terjadi sebanyak tiga kali. Gangguan berulang itu kemudian berdampak pada ketersediaan BBM di sejumlah SPBU dan memicu penumpukan kendaraan.
“Pemerintah Daerah bersama DPRD Kabupaten Jember mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan (panic buying),” kata Fawait.

Gus Fawait, Bupati Jember memberi penjelasan-Foto : Tim media Kominfo Jember-
Situasi tersebut membuat antrean di SPBU terlihat lebih panjang karena sebagian warga memilih mengisi BBM dalam jumlah lebih banyak sebagai langkah antisipasi. Jika pola pembelian seperti itu terus terjadi, tekanan terhadap stok di tingkat SPBU justru dapat semakin besar.
Pemkab Jember mengaku telah menyampaikan protes kepada Pertamina terkait gangguan distribusi tersebut. Pemerintah daerah juga melakukan koordinasi untuk memastikan persoalan teknis di lapangan segera ditangani.
Sebagai langkah penanganan, Pertamina disebut telah menambah pasokan BBM ke Jember di atas kuota harian normal. Tambahan pasokan itu diharapkan dapat mempercepat penguraian antrean dan mengembalikan distribusi BBM ke kondisi normal.
BACA JUGA:Tak Hanya Minuman, Warga Binaan Lapas Mojokerto Juga Belajar Membuat Keripik
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tetap membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan penimbunan. Pemerintah menilai pembelian berlebihan justru berpotensi memperpanjang antrean dan membuat warga lain kesulitan mendapatkan BBM.
Sumber:




