Merawat Ingatan, GMNI Mojokerto Peringati September Hitam

Merawat Ingatan, GMNI Mojokerto Peringati September Hitam

GMNI Mojokerto saat memperingati September Hitam di depan Balai Kota Mojokerto..- Foto : dok. GMNI Mojokerto-

Mojokerto, Diswaymojokerto.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mojokerto menggelar aksi refleksi dalam rangka memperingati "September Hitam" di depan Gedung Wali Kota Mojokerto, Sabtu, 19 September 2026.

Peringatan tersebut menjadi momentum bagi GMNI Mojokerto untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, kembali mengingat berbagai catatan sejarah terkait persoalan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

September Hitam selama ini menjadi momentum untuk mengenang berbagai peristiwa berkaitan dengan kekerasan, pelanggaran HAM, hilangnya kebebasan sipil, serta perjuangan masyarakat dalam memperoleh keadilan.

BACA JUGA:Piala Bupati Jember 2026 Dimulai, Bibit Pemain Muda Diburu dari 31 Kecamatan

BACA JUGA:Gudang Sablon Sepatu di Mojokerto Terbakar, Empat Damkar Dikerahkan

Namun, bagi GMNI Mojokerto, September hitam bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu. Momentum ini juga menjadi ruang untuk melihat kembali persoalan HAM yang terjadi dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Koordinator Lapangan, Edo mengatakan, September hitam harus menjadi momentum untuk merawat ingatan tentang sejarah bangsa. 


Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mojokerto menggelar aksi refleksi dalam rangka memperingati - Foto : dok. GMNI Mojokerto-

"Kami tidak ingin generasi hari ini kehilangan pengetahuan tentang sejarah bangsanya. Mengingat bukan berarti membenci, tetapi memastikan bahwa kemanusiaan dan demokrasi terus menjadi nilai yang dijaga,” ujarnya. 

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga ruang diskusi publik dan memastikan berbagai persoalan kebangsaan tetap mendapatkan perhatian masyarakat.

“Mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis. Kami hadir bukan hanya untuk mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga untuk memastikan bahwa persoalan kemanusiaan, demokrasi, kebebasan berpendapat, dan keadilan tetap menjadi perhatian generasi hari ini,” tegasnya.

BACA JUGA:Warga Tolak Alih Fungsi Hutan untuk Yon TP di Silo, Gus Fawait Siap Bawa Aspirasi ke Pemerintah Pusat

BACA JUGA:Cegah Bentrokan, Polisi di Mojokerto Ajak Empat Perguruan Silat Cangkruan Bareng

Dalam momentum September Hitam, GMNI Mojokerto mendorong agar pembahasan mengenai HAM terus dilakukan secara terbuka, berdasarkan fakta sejarah, serta menghormati perspektif korban dan proses hukum yang berlaku.

Sumber: