Edelweis Bromo: Bunga Abadi, Cinta, dan Pilihan untuk Melestarikan

Senin 30-03-2026,11:14 WIB
Reporter : Habibul Latif
Editor : Elsa Fifajanti

Pasuruan, diswaymojokerto.id - Kabut turun pelan di pagi hari di Gunung Bromo. Angin dingin menyapu lautan pasir yang tampak tak berujung. Di tengah lanskap yang keras itu, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian—bunga kecil berwarna pucat yang tumbuh tenang di antara semak dan lereng: edelweis.

Sekilas, ia tampak biasa. Tidak mencolok, tidak pula semeriah bunga lain. Namun bagi mereka yang mengenalnya, edelweis menyimpan cerita panjang—tentang ketahanan, tentang cinta, dan tentang manusia.

Bunga yang memiliki nama ilmiah Anaphalis javanica ini dikenal sebagai “bunga abadi”. Ia mampu bertahan lama, bahkan setelah dipetik. Di habitat alaminya di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, edelweis tumbuh di tempat-tempat tertentu yang tidak mudah dijangkau. Perlu langkah lebih jauh, napas lebih panjang, dan sedikit keberuntungan untuk menemukannya.

Mungkin itu sebabnya, edelweis terasa istimewa. Ia tidak mudah dimiliki.


Wisatawan menikmati pemandangan bunga edelweis di gunung bromo-Ilustrasi : Habib (magang)-

Bagi sebagian orang, terutama pasangan yang datang ke Bromo, edelweis menjadi simbol yang lebih dalam. Ada yang menyelipkannya dalam cerita cinta, menjadikannya lambang hubungan yang diharapkan tetap bertahan, sekuat bunga itu menghadapi dingin dan angin pegunungan. Di tengah lanskap sunyi, edelweis seperti menyampaikan pesan sederhana: bahwa keabadian adalah tentang bertahan.

Namun, cerita tentang edelweis tidak selalu seindah maknanya.

BACA JUGA:Halal Bihalal LCC Indonesia dan Forshaki Mojokerto, Presiden LCC Ingatkan Jaga Hati

BACA JUGA:Sehari Damkar Mojokerto Evakuasi Ular Kobra dan Ular Kayu dari Rumah dan Motor Warga

Di balik romantisme itu, ada kenyataan yang kerap diabaikan. Edelweis bukan bunga yang boleh dipetik. Ia dilindungi. Setiap tangkai yang diambil dari alam berarti mengurangi satu bagian kecil dari ekosistem yang rapuh. Meski aturan sudah jelas, masih ada saja tangan-tangan yang tergoda membawanya pulang—seolah kenangan harus selalu berwujud benda.

Di sinilah ironi itu muncul.

Bunga yang disebut abadi justru bergantung pada keputusan manusia untuk tetap ada. Jika semua orang memilih memetiknya, keabadian itu akan berhenti menjadi makna, dan berubah menjadi cerita yang hilang.


Petugas taman nasional bromo tengger semeru mengingatkan dilarang memetik bunga edelweis-Foto : Habib Magang-

Petugas di kawasan taman nasional tak henti mengingatkan. Di beberapa titik, pengawasan diperketat. Edukasi terus disampaikan, terutama kepada pengunjung yang baru pertama kali datang. Pesannya sederhana, namun tidak selalu mudah diterima: menikmati keindahan alam tidak harus dengan memilikinya.

Di sisi lain, harapan tumbuh dari cara yang berbeda. Warga sekitar kini mulai membudidayakan edelweis secara legal. Bunga-bunga ini dijual sebagai alternatif bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan tanpa merusak alam. Sebuah jalan tengah—antara keinginan manusia dan kebutuhan untuk menjaga.

Kategori :