Mojokerto, diswaymojokerto.id - Tren membeli pakaian bekas atau thrifting semakin diminati, terutama di kalangan anak muda. Aktivitas yang semula identik dengan berburu pakaian murah kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang mengedepankan efisiensi, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, toko thrifting hingga lapak pakaian bekas di media sosial tumbuh pesat. Beragam pakaian, mulai dari produk lokal hingga merek internasional, ditawarkan dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan barang baru. Tak sedikit pembeli yang sengaja berburu pakaian bermerek dengan kualitas yang masih baik tanpa harus merogoh kocek dalam.
BACA JUGA:Diduga Digendam, Kakek 72 Tahun di Mojokerto Kehilangan Motor Supra 125
Namun, daya tarik thrifting tak lagi sebatas soal harga. Di balik tren tersebut, muncul kesadaran baru tentang pentingnya memperpanjang usia pakai sebuah produk. Dengan membeli pakaian bekas yang masih layak digunakan, masyarakat turut membantu mengurangi limbah tekstil yang terus meningkat akibat tingginya konsumsi industri fesyen.
Belanja cerdas, tampil modis, dan lebih peduli lingkungan.-Foto : Velinda Magang-
Fenomena ini juga menjadi salah satu bentuk respons terhadap budaya fast fashion, yakni produksi pakaian secara cepat dan masif untuk mengikuti tren yang berganti dalam waktu singkat. Pola konsumsi tersebut selama ini dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya limbah tekstil dan penggunaan sumber daya alam dalam jumlah besar.
Di sisi lain, kebiasaan thrifting mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola isi lemari pakaian. Banyak orang mulai menyadari masih banyak pakaian yang jarang dipakai tetapi kondisinya tetap baik. Alih-alih dibiarkan menumpuk, pakaian tersebut dijual kembali atau disumbangkan agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain.
BACA JUGA:Sekdakab Mojokerto Minta APPSI Perkuat Daya Saing Pasar Rakyat, Retribusi Jadi Kunci Pembenahan
BACA JUGA:Dari Bengkel Sederhana di Trawas, Kerajinan Pelana Kuda Warisan Keluarga Ini Menembus Pasar Malaysia
Konsep tersebut sejalan dengan gaya hidup minimalis yang kini semakin populer. Memilah pakaian sesuai kebutuhan, mengurangi pembelian yang bersifat impulsif, serta memberi kesempatan barang untuk digunakan kembali dinilai mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Penjual memperoleh tambahan penghasilan, sementara pembeli mendapatkan pakaian berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Berburu pakaian bekas layak pakai, biasa disebut Thrifting Sumber: Pexels-Foto : Yasmin (Magang)-
Meski demikian, berbelanja pakaian bekas tetap membutuhkan ketelitian. Pembeli sebaiknya memeriksa kondisi pakaian secara menyeluruh, mulai dari kualitas bahan, jahitan, resleting, hingga memastikan tidak terdapat noda atau kerusakan yang sulit diperbaiki. Jika diperlukan pencucian atau perawatan khusus, biaya tersebut juga perlu diperhitungkan sebelum memutuskan membeli.
Menentukan anggaran belanja juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Harga yang relatif murah kerap membuat pembeli tergoda membawa pulang lebih banyak pakaian dari yang sebenarnya dibutuhkan. Karena itu, membuat daftar kebutuhan sebelum berburu thrifting dapat menjadi cara sederhana untuk menghindari perilaku konsumtif.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Minuman Kekinian, Matcha Punya Segudang Manfaat untuk Kulit