Saat Huruf Bercerita, Menyibak Sejarah di Museum Huruf Jember
Museum huruf di Jember-Foto : nativeindonesia-
Jember, diswaymojokerto.id - Di tengah hiruk pikuk kawasan kampus Universitas Jember, terdapat sebuah ruang sunyi yang menyimpan jejak panjang peradaban manusia. Di sanalah Museum Huruf Jember berdiri, sebuah destinasi edukasi yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan aksara dari masa ke masa.
Berlokasi di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, museum ini mungkin tidak semegah gedung-gedung modern di sekitarnya. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kekayaan intelektual yang tak ternilai.
Dinding-dindingnya dipenuhi berbagai bentuk huruf dan aksara, mulai dari warisan Nusantara hingga sistem tulisan dari berbagai belahan dunia.
Memasuki ruangannya, pengunjung seakan diajak melintasi waktu. Dari aksara kuno yang pernah digunakan dalam peradaban awal, hingga huruf modern yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Salah satu koleksi di museum huruf Jember-Foto : Istimewa-
Setiap simbol bukan sekadar rangkaian garis dan bentuk, melainkan jejak pemikiran manusia dalam menyampaikan ide, ilmu, dan budaya.
Pendiri museum, Eri Wijayanto, menuturkan bahwa tempat ini lahir dari kegelisahan akan pentingnya menjaga warisan aksara. Baginya, huruf bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan perjalanan panjang peradaban manusia.
BACA JUGA:Bambu, dari Rumpun Sederhana Menjadi Penjaga Kehidupan
BACA JUGA:Menag Dorong Majelis Taklim Jadi Solusi Problematika Umat
“Museum ini kami bangun agar masyarakat bisa mengenal sejarah huruf dan aksara dari berbagai peradaban. Huruf bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari perjalanan budaya dan pengetahuan manusia,” ujarnya.
Tak hanya mengoleksi aksara Nusantara, museum ini juga menghadirkan sistem tulisan dari berbagai negara. Hal tersebut memungkinkan pengunjung memahami bagaimana manusia di berbagai wilayah dunia mengembangkan cara berkomunikasi melalui simbol dan tulisan.

Museum huruf Jember dibuka untuk umum sejak 2017-Foto : Istimewa-
“Kami ingin generasi muda menyadari bahwa setiap huruf memiliki sejarah panjang. Dengan memahami aksara, kita sebenarnya sedang mempelajari peradaban manusia,” tambah Eri.
Keberadaan museum ini juga mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Camat Sumbersari, Deni Hadiatullah, menilai Museum Huruf sebagai potensi wisata edukasi yang penting di wilayahnya.
Sumber:

