Seribu Durian di Lereng Lumbang, Tradisi Selamatan Desa Kronto Tetap Menggema
Gunungan 1000 buah durian, selamatan desa Kronto kecamatan Lumbang Pasuruan.-Foto : Humas Kabupaten Pasuruan-
Pasuruan, diswaymojokerto.id - Aroma manis nan menyengat khas durian matang pohon menyeruak, membelah udara sejuk di lereng Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan.
Minggu pagi 5 April 2026, halaman Balai Desa Kronto mendadak berubah menjadi lautan manusia. Di tengah kerumunan, sebuah gunungan raksasa berdiri megah, berselimutkan ratusan buah durian berduri yang menggoda selera.
Bagi warga setempat, ini bukan sekadar pesta buah. Ini adalah Selamatan Desa, sebuah ritual syukur yang telah mengakar nadi di Bumi Kronto.
Tahun ini, pemandangan sedikit berbeda. Jika tahun lalu ada sekitar 5.000 durian yang menggunung, kali ini "hanya" ada 1.000 buah yang dipajang. Namun, penurunan jumlah ini tak lantas mendinginkan suasana. Riuh rendah tawa warga dan semangat gotong royong justru terasa lebih kental.
BACA JUGA:Ekonomi Kabupaten Mojokerto Meroket, Investasi 2025 Tembus Rp4,45 Triliun
BACA JUGA:Dokter RS Unair Ingatkan Masyarakat Patuhi Aturan Konsumsi Vitamin dan Suplemen
Kepala Desa Kronto, Sodin, mengakui bahwa alam sedang memberikan tantangan bagi para petani. Curah hujan yang tinggi dan serangan hama penyakit membuat banyak bunga durian rontok sebelum sempat menjadi buah.
"Memang hasil panen tidak maksimal tahun ini. Tapi bagi kami, selamatan desa adalah soal rasa syukur, bukan soal berapa banyak buah yang bisa dipamerkan," ungkap Sodin dengan nada tenang.
Perayaan ini dirangkai secara apik selama dua hari penuh. Hari pertama dibuka dengan kekhusyukan; lantunan ayat suci Al-Qur’an, doa, dan tahlil bergema di penjuru desa. Warga bersimpuh, melangitkan syukur atas keselamatan yang diberikan selama setahun terakhir.
Puncaknya terjadi pada hari kedua. Sebanyak 22 Rukun Tetangga (RT) tumpah ruah ke jalan. Masing-masing membawa ancak—wadah besar berisi hasil bumi mulai dari sayuran hingga buah-buahan yang dihias sedemikian rupa. Ancak-ancak ini diarak keliling desa, sebuah simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
BACA JUGA:Unair dan Kementdiktisaintek Gelar Workshop Nasional Tingkatkan Kapasitas Arsiparis Perguruan Tinggi
BACA JUGA:Kominfo Kota Mojokerto Perkuat Sinergi dengan Kominfo Jatim Dorong Transformasi Digital
Setelah doa bersama di puncak acara, momen yang paling dinanti pun tiba: Grebeg Gunungan. Hanya dalam hitungan menit, gunungan durian dan ancak hasil bumi tersebut ludes diperebutkan warga. Ada peluh, ada dorongan, tapi semuanya diakhiri dengan tawa lebar saat mereka berhasil membawa pulang "berkah" dari selamatan tersebut.
Ada hal unik dalam pelaksanaan tahun ini. Biasanya, Selamatan Desa digelar pada bulan Ruwah (sebelum Ramadan). Namun, karena waktu yang berdekatan dengan bulan suci, warga bersepakat mengundurnya hingga setelah Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Sumber:

