Jatim Dikepung Kemarau Panjang 240 Hari, Lumbung Pangan Terancam, Pemprov Siagakan 3.800 Sumur Bor
Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi di Dyandra Convention Center, Surabaya, Selasa 7 April 2026-Foto : Kominfo Jatim-
Surabaya, diswaymojokerto.id - Provinsi Jawa Timur bersiap menghadapi tantangan iklim ekstrem pada tahun 2026. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Jawa Timur terancam mengalami hari tanpa hujan hingga 240 hari atau sekitar 24 dasarian.
Durasi kemarau yang panjang ini memicu alarm kewaspadaan tinggi terhadap krisis air bersih dan ancaman gagal panen di wilayah lumbung pangan.
Merespons potensi bencana tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi di Dyandra Convention Center, Surabaya, Selasa 7 April 2026.
Pertemuan ini menjadi krusial karena melibatkan seluruh elemen kepala daerah, termasuk Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Rizal Oktavian, serta jajaran Forkopimda se-Jatim untuk menyatukan barisan mitigasi.
BACA JUGA:Penurunan Harga Emas Perhiasan Penyebab Utama Deflasi Mojokerto di Bulan Maret 2026
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Salurkan Hibah ke 50 Lembaga, Perkuat Peran Masyarakat dalam Pembangunan
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengungkapkan bahwa fokus utama mitigasi tahun ini adalah menyelamatkan sektor pertanian. Daerah-daerah penyokong pangan nasional seperti Banyuwangi, Lamongan, Ngawi, Ponorogo, hingga Madiun kini masuk dalam radar pengawasan ketat.
"Hampir semua wilayah memiliki titik rawan kekeringan. Namun, perhatian khusus kami berikan pada daerah lumbung padi karena dampaknya akan sangat masif terhadap ketahanan pangan kita," ujar Emil usai rapat koordinasi tersebut.
Ia menambahkan, meski puncak kekeringan diprediksi terjadi serentak pada Agustus mendatang, beberapa wilayah diperkirakan sudah mulai merasakan dampak kekurangan air sejak Juni.
Sebagai langkah konkret "menjemput" krisis, Pemprov Jatim telah menyiapkan infrastruktur cadangan air secara masif. Dalam dua tahun terakhir, sebanyak 2.000 titik sumur bor telah dioperasikan.
BACA JUGA:Jumlah JCH Bondowoso Bertambah Jadi 916 Orang, Dijadwalkan Berangkat 13–14 Mei 2026
Tahun ini, pemerintah menambah lagi 1.800 unit sumur bor baru untuk memastikan pasokan air bersih bagi warga dan irigasi tetap mengalir.
Selain sumur bor, optimalisasi bendungan besar di wilayah Mataraman dan Pantura—seperti di Pacitan, Trenggalek, Nganjuk, dan Bojonegoro—kini dipacu untuk menjadi tandon raksasa selama masa krisis.
Sumber:

