Tim Mewlafor Bawa 23 KTH di Mojokerto Studi Banding ke KTH Sukobubuk Rejo,Pati Jawa Tengah
Anggota KTH dari Mojokerto ketika mengikuti penguatan kapasitas pemangku kepentingan dalam Proyek Mewlafor di KTH Sukabubuk Rejo, Pati, Jawa Tengah. di KTH Sukabubuk Rejo rombongan mendapat berbagaio pencerahan mengenai hasil tanam pohon di kawasan hutan.-andung - disway mojokerto-
Pati, Diswaymojokerto.id – Tim Mewlafor mengajak 23 KTH di Mojokerto studi banding ke KTH Sukobubuk Rejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hal itu dilakukan sebagai salah satu rangkaian kegiatan Proyek Mewalfor untuk peningkatan kapasitas pemangku kepentingan kegiatan Proyek Mewlafor.
Kegiatan yang juga diikuti beberapa perwakilan organisasi perangkat daerah Kabupaten Mojokerto dan Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur, UPTD Tahura R Soerjo, BPDAS Pemali Jratun, dan Kementerian Kehutanan itu untuk melihat keberhasilan kegiatan tanam pohon di yang dilakukan KTH Sukobubuk Rejo, Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.
Dengan pola tanam komoditas MPTS (Multipurpose Trees Species) atau tanaman buah itu, KTH Sukobubuk Rejo, berhasil emmbuat produk dan menembus pasar ekspor. Bahkan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan, asset KTH Sukobubuk saat ini bisa mencapai Rp 2 Milyar.

KTH dari Kabuoaten Mojokerto bersama Tim Mewlafor di Kantor Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah-andung - disway mojokerto-
Pada kegiatan tersebut, Kepala BPDAS Pemali Jratun, Arief S Utomo, menyebutkan, KTH Sukobubuk Rejo merupakan salah satu binaan yang bisa mengembangkan usaha sampai skala nasional. ‘’Apa dan bagaimana yang dilakukan KTH Sukobubuk Rejo, salah sataunya karena kebersamaan, komunikasi, koordinasi yang intens,’’ katanya.
BACA JUGA:Fokus Genjot PAD, DPRD Kota Mojokerto Serahkan 18 Rekomendasi atas LKPJ Wali Kota 2025
Ketua KTH Sukobubuk rejo, Salman, mengatakan, apa yang dilakukan KTH Sukobubuk Rejo hingga mencapai apa yang diraih saat ini tak lepas dari beberapa hal. Beberapa hal tersebut diantaranya, mengelola kelembagaan, mengelola kawasan, dan mengelola usaha.
Disebutkan, mengelola kelembagaan menjadi salah satu faktor utama untuk menjalankan program. ‘’Semua pengurus harus mempunyai visi misi yang sama dan semangat mengelola usaha bersama,’’ katanya.
Salman yang juga Kepala Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo itu, menjelaskan, ada pengaturan anggota dan pengurus dari pengelolaan lahan seluas 1.300 hektar dengan anggota 1.464 KK. ‘’Ada pertemuan rutin secara periodik untuk membahas berbagai kondisi dan perkembangan lahan dan komoditi yang ada,’’ tambahnya.

Kepala BPDAS Pemali Jratun, Arief S Utomo, Ketua Forum DAS Kawasan Muria, Hendy Hendro HS, Rini dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Rini, Ketua KTH Sukabubuk Rejo, Salman, dalam pertemuan dengan KTH dari Mojokerto dan Tim Mewlafor di Ba-andung - disway mojokerto-
Dengan komunikasi dengan anggota secara periodik dan rutin itu, kemudian kami bisa membahas berbagai program yang bisa dilakukan. Salah satu capaian, selain bisa melakukan tutuan lahan dengan MPTS, pihaknya juga melakukan berbagai terobosan dari berbagai tanaman yang dihasilkan.
BACA JUGA:Kecelakaan Beruntun di Mojokerto, Tiga Mobil dan Satu Sepeda Motor, Lima Orang Luka-Luka
BACA JUGA:Jumlah JCH Bondowoso Bertambah Jadi 916 Orang, Dijadwalkan Berangkat 13–14 Mei 2026
‘’Disini ada tanaman alpukat, Nangka, petai, dan tanaman lainnya. Tanaman petani bisa kita ekspor, sedangkan Nangka dan alpukat kita proses sehingga bisa memiliki nilai jual lebih. Salah satu konsepnya adalah mendekatkan hasil lahan kita dengan konsumen,’’ tuturnya.
Karena itu, dia bersama anggota KTH Sukabubuk Rejo, kemudian mengirim hasil lahannya ke berbagai kota dengan produk yang sudah ditentukan kualitasnya. Bersama petani, pihaknya melakukan pengelolaan pohon Alpukat dengan nerawat pohon, memanen dan menjualnya.
Selain itu juga melakukan perdagangan buah segar dan beku meliputi buah Mangga, Nangka, dan petai. ‘’Berbagai buah itu dilakukan pengemasan menarik dan kami beri merek Fruitara,’’ sahutnya.

Salman, Ketua KTH Sukabubuk rejo, Desa Sukabubuk, Kecamatan Margorejo, Pati, Jawa Tengah, memberikan penjelasan mengenai capaian KTH Sukabubuk Rejo-andung - disway mojokerto-
Dia kemudian memberikan ilustrasi, kalau 1 hektar lahan ditanami 200 pohon Alpukat dan satu pohon bisa menghasilkan Rp 500 ribu, maka dalam satu tahun bisa didapat hasil Rp 100 juta. Namun angka itu meruoakan angka terendah, karena berdasarkan perhitungan normal, hasil 1 hektar lahan dengan 200 pohon Alpukat malah bisa mencapai sekitar Rp 300 juta per tahun.
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Permudah Akses Informasi Publik Melalui PPID
BACA JUGA:Pemkot Mojokerto Salurkan Hibah ke 50 Lembaga, Perkuat Peran Masyarakat dalam Pembangunan
Saat ini, selain mengelola lahan dengan tanaman Alpukat, Nangk, Mangga, dan petai. KTH Sukobubuk Rejo juga menembangkan usaha perikanan dan memelihara ayam petelur. KTH Sukabubuk Rejo juga mendapat bantuan pembangkit listrik tenaga surya yang diperolah dari CSR perusahaan.
Sumber:

