Bukan Sekadar Silaturahmi, BEM FISIP Unair Halalbihalal dengan Menanam 5.000 Pohon di Penanggungan
BEM FISIP Unair bersama Yayasan Sekawan Bumi Lestari usai melaksanakan penanaman ribuan bibit pohon di Gunung Penanggungan- Foto: Dok. BEM FISIP Unair-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Biasanya, momen pasca-Lebaran identik dengan jabat tangan dan jamuan makan di dalam ruangan. Namun, ada pemandangan berbeda di lereng Gunung Penanggungan pada Minggu 29 Maret 2026.
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kementerian Sosial dan Lingkungan (Sosling) BEM FISIP Universitas Airlangga (Unair) memilih merayakan silaturahmi dengan cara yang lebih "hijau".
Bertajuk “Halalbihalal Bersama Alam”, para mahasiswa ini menggandeng Yayasan Sekawan Bumi Lestari untuk melakukan aksi nyata: menanam 5.000 bibit pohon di jalur pendakian gunung yang dikenal sebagai kawasan bersejarah tersebut.
BACA JUGA:Bandel, Masih Banyak Pengendara Berhenti di Sepanjang Jembatan Cangar
BACA JUGA:Penugasan PPPK Penuh atau Paruh Waktu ke KDKMP, Pemkab Mojokerto Masih Petakan
Pemilihan Gunung Penanggungan sebagai lokasi aksi bukanlah tanpa alasan. Gunung ini bukan sekadar destinasi pendakian favorit, melainkan "tangki air" raksasa bagi warga di sekitarnya.
Syahirun Amin, Menteri Sosling BEM FISIP Unair, menjelaskan bahwa menjaga ekosistem Penanggungan berarti menjaga keberlangsungan hidup masyarakat lokal.
“Inti gagasannya adalah keselarasan visi untuk kebermanfaatan sosial dan lingkungan. Gunung Penanggungan memiliki beberapa sumber mata air krusial. Jika tidak kita jaga sekarang, risikonya bukan hanya kekeringan, tapi juga bencana alam,” ujar Syahirun, Kamis 2 April 2026.

Potret antusiasme peserta “Halal Bihalal Bersama Alam” saat menanam bibit pohon di kawasan Gunung Penanggungan- Foto: Dok. BEM FISIP Unair-
Langkah ini juga menjadi representasi nilai Excellence with Morality yang diusung Unair, sekaligus kontribusi konkret terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam poin penanganan perubahan iklim dan pelestarian ekosistem darat.
Niat baik saja tidak cukup. Di lapangan, para mahasiswa harus berhadapan dengan realita medan pegunungan yang menantang. Selomita Lucya Salsabila, Penanggung Jawab Lapangan, menceritakan bagaimana timnya harus mendistribusikan belasan bibit pohon per orang melewati jalur-jalur pendakian yang curam.
“Ini pertama kalinya kami turun langsung di medan pendakian yang sebenarnya. Tantangan fisik dan mental sangat terasa saat harus membawa 10 hingga 15 bibit pohon sambil mendaki,” kenang mahasiswi Administrasi Publik tersebut.
BACA JUGA:Perkuat Layanan Kesehatan, Unair dan RSUD Jombang Resmi Jalin Kolaborasi Strategis
BACA JUGA:Layanan Curhat dan Teman Virtual Marak, Jawab Kebutuhan Emosional Anak Muda
Sumber:

