Ucapan HUT ke 80 kemerdekaan RI - Tjiwi Kmia

Hadapi Era Krisis Wibawa, Begini Tanggapan Anggota PSHT

Hadapi Era Krisis Wibawa, Begini Tanggapan Anggota PSHT

Anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tengah berlatih-Foto : Krajan.id / Ana Magang-

Mojokerto, Diswaymojokerto.id - Di balik kesibukan masyarakat Dusun Bulakunci, Pacet, Mojokerto, ada sebuah ruang sederhana yang menjadi tempat berkumpulnya para pemuda untuk berlatih sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur. Ruang itu adalah tempat latihan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Rayon Nogosari, Pacet, Mojokerto.

Rayon ini tercatat memiliki 32 anggota aktif dengan lima pengurus inti yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, humas, serta pelatih tetap. Meski begitu, formasi pengurus ini disesuaikan dengan regulasi yang berlaku di tingkat rayon.

Latihan rutin diadakan tiga kali dalam sepekan, yakni Selasa, Kamis, dan Sabtu, mulai pukul 19.30 hingga selesai. Durasi latihan bergantung pada tingkat sabuk yang dikenakan peserta, mulai dari sabuk pemula, jambon, hijau, putih, hingga puncaknya yaitu mori bagi mereka yang resmi lulus dari perguruan. Tak hanya latihan rutin, PSHT juga aktif menggelar berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat pelajar, mahasiswa, hingga umum.


M. Yahya Maulana Ihsan (24), anggota PSHT Rayon Nogosari Pacet-Foto : Ana Magang-

Motto PSHT, “Mendidik manusia berbudi pekerti yang luhur, tahu benar dan salah,” menjadi pegangan penting bagi setiap anggota. Hal ini pula yang dirasakan oleh M. Yahya Maulana Ihsan (24), warga Pacet yang merupakan anggota di PSHT Rayon Nogosari. Yahya pertama kali bergabung sebagai anggota pada Agustus 2024.

BACA JUGA:Pameran Flora di Sunrise Mall Mojokerto, Kenalkan Terarium Hingga Pajang Aneka Tanaman Hias

BACA JUGA:Harga Ubi di Pacet Merangkak Naik Dua Kali Lipat, Pedagang Terpaksa Kurangi Stok

“Sejak saya disahkan menjadi anggota, saya merasa solidaritas sangat terasa. Begitu ketemu orang yang tidak saya kenal, ternyata satu perguruan. Itu yang membuat saya bangga,” ungkap Yahya.

Dalam pandangannya, jumlah anggota bukanlah hal utama. “Menurut saya, jangan terpaku pada massa, melainkan kualitas dari anak didik, baik secara fisik, materi, maupun rohani. Jika tidak memungkinkan untuk diluluskan, maka jangan diluluskan, karena dikhawatirkan bisa membuat onar atau mencoreng nama PSHT,” ujarnya.


Ilustrasi PSHT-Foto : CNN Indonesia/ Ana Magang-

PSHT, Lebih dari Sekadar Pencak Silat

PSHT atau Setia Hati Terate dikenal luas sebagai salah satu organisasi pencak silat terbesar di dunia. Tidak hanya karena teknik silatnya yang mendunia, melainkan juga ajaran budi luhur dan pembentukan jatidiri manusia. Perguruan ini didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922, tokoh sejawat Ki Hadjar Dewantara di era pergerakan nasional.

BACA JUGA:Petugas Gabungan di Kota Mojokerto Temukan Dugaan Penyewaan Trotoar untuk Lapak PKL Kontainer

Sejarah panjang itu membuat PSHT bukan sekadar wadah bela diri, melainkan juga ruang perjalanan spiritual bagi sebagian anggotanya. Banyak tokoh lahir dari rahim PSHT, mulai dari atlet berprestasi seperti Suwardi “Becak Lawu” hingga Denny Aprisani yang mengharumkan nama Indonesia di ajang Sea Games. Bahkan Presiden Joko Widodo tercatat sebagai warga kehormatan PSHT.

Sumber:

b