Pembuatan Sumur Resapan Proyek Mewlafor segera Direalisir
Disway Mojokerto bersama tim BPDAS yang tergabungdalam Tim Mewlafor melakukan sosialisasi pembuatan sumur resaan di Desa Kemiri. Tim juga menentukan lokasi indikatif di 4 dusun di Desa Kemiri. Pembuatan sumur resapan akan dilakukan Februari 2026-Dok disway mojokerto-
Mojokerto, Diswaymojokerto.id – Pembuatan sumur esapan dalam Proyek Mewlafor segera direalisasikan. Regional Facilitator Proyek Mewlafor, Sutisna , S.Hut, M.P., mengatakan pembuatan sumur esapan air dalam Proyek Mewlafor akan dilaksanakan Bulan Februari.
Hal itu sesuai dengan tahap perencanaan yang sudah dilakukan pada tahun 2025 menyusul sosialisasi dan pendataan lokasi pembuatan sumur resapan air di 7 kecamatan di wilayah hulu Kabupaten Mojokerto. ‘’Rencana pelaksanaan Bulan Februari setelah persiapan selesai dilakukan, termasuk pengadaan material sumur resapan,’’ katanya, Selasa, 27 Januari 2026.
Seperti diketahui, Proyek Mewlafor yang dilakukan Kementrian Kehutanan Bersama UNIDO (United Nation Industrial Development organization) dari program GEF 7 melaksnakan beberapa kegiatan Diantaranya tanam pohon di lahan seluas 251 hektar, tanam bambu di lahan seluas 130 hektar, pembuatan dan pemasangan 8000 biopori, dan pembuatan 597 sumur resapan.

Disway mojokerto bersama Tim Mewlafor melakukan sosialisasi pembuatan sumur resapan di Desa Kemiri, Kecamatan Pacet. Rombongan juga melakukan identifikasi lokasi indikatif calon sumur resapan. Menurut rencana, pembuatan sumur resapan akan direalisasikan Bulan Februari 2026-andung - disway mojokerto-
Protek Mewlafor dilaksanakan di 7 wilwyah kecamatan anara lain Kecamatan Jatirejo, Kecamatan Gondang, Kecamatan Pacet, Kecamatan Trawas, Kecamatan Kuotejo, Kecamatan Pungging, dan Kecamatan Ngoro. Khusus untuk pembuatan 8000 biopori, Proyek Mewlafor melibatkan sekitar 80 sekolah di wilayah kecamatan tersebut.
BACA JUGA:110.481 Guru dan Pelajar Ikuti Program SIKAP, Pemrpov Jatim Peroleh Penghargaan MURI
BACA JUGA:Galeri Soekarno Kecil di Kota Mojokerto Resmi Dibuka untuk Masyarakat Umum
Sutisna menjelaskan, pembuatan biopori melibatkan sekolah karena proyek tersebut memprioritaskan pendidikan mengenai lingkungan kepada siswa sekolah. ‘’Para siswa juga diajarkan membuat biopori, memelihara dan memanfaatkannya,’’ tambahnya.
Sedangkan untuk tanam pohon, pihaknya melibatkan kelompok tani hutan (KTH) dan masyarakat sekitar hutan. Disebutkan, untuk tanam pohon sudah dilakukan dan melibatkan 24 KTH di wilayah 7 kecamatan di Kabupaten Mojokerto dan 1 kecamatan di Kabupaten Jombang .
Untu pembuatan biopori juga sudah dilakukan dan sempat ada peninjauan oleh tim dari UNIDO yang datang ke Kabupaten Mojokerto. Tim dari UNIDO juga sempat dialog dengan kepala sekolah, guru, serta siswa, dan sempat ikut praktik pembuatan biopori.

Cristian Susan (mengenakan blangkon, di laytar belakang Salil Dutt) dari UNIDO mencoba membuat lubang bipori menggunakan alat bor pemberian Proyek Mewlafor di SDN Pandan, Kecamatan Pacet, Jumat, 19 Desember 2025.-andung - disway mojokerto-
Khusus mengenai pembuatan sumur resapan, Sutisna menyebutkan, dilakukan di kawasan pemukiman dan melibatkan warga setempat. Hal itu untuk memudahkan perawatan sumur resapan yang dibuat di halaman rumah warga.
BACA JUGA:Peringatan Hari Gizi Nasional, Pemprov Jatim Berkomitmen Memperkuat Gizi Masyarakat
‘’Karena sumur resapan air memang butuh pemeliharaan agar terus berfungsi normal sehingga uoaya konservasi air melalui sumur resapan bisa terus berlanjut,’’ tuturnya.
Pemeliharaan sumur resapan untuk menghindari tumpukan sedimen di dalam sumur resapan sehingga mempengaruhi fungsi resapan. Pemeliharan atau pembersihan sumur resapan bisa dilakukan setahun sekali sesuai kondisinya.
‘’Pemantauan kondisi sumur resapan bisa dilakukan melalui bak kontrol yang dibuat di luar sumur resapan. Selain itu juga bisa dilakukan dengan membuka penutup sumur resapan untuk pembersihannya,’’ jelasnya.
Pihaknya juga berharap program yang dilakukan dalam Proyek Mewlafor juga bisa diadapatsi atau diadopsi warga lainnya. Disebutkan, Proyek Mlewlafor dilakukan sebagai upaya konservasi untuk menjaga keberlangsungan sumber mata air di Kabupaten Mojokerto.
BACA JUGA:TPA Karangdiyeng Mojokerto Terancam Overload, DLH Bakal Optimalisasi 3R dan TPS3R
Pihaknya juga akan melakukan pengembangan program sesuai perencanaan yang sudah dilakukan. Hanya saja, pengembangan program juga sambil menunggu hasil review atau evaluasi yang saat ini masih berjalan.
Sumber:
