Griya Sarinah, Kafe Desa yang Menolak Sekat Kelas
Griya Sarinah tampak depan-Foto : Afthon Magang-
Pasuruan, diswaymojokerto.id - Siapa sangka, di tengah perdesaan kecil di desa cowek Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, berdiri sebuah kedai yang diam-diam menantang arah arus industri kafe hari ini.
Namanya Griya Sarinah sebuah tempat nongkrong berkonsep hommy yang sejak awal tak ingin menjual kemewahan, melainkan rasa pulang.
Nama itu punya makna yang tidak main-main. Griya diambil dari bahasa Jawa yang berarti rumah. Sementara Sarinah menjadi simbol kesetaraan kelas yang diambil dari nama tokoh perempuan pengasuh Soekarno kecil, ini menjadi sebuah penegasan bahwa ruang publik seharusnya bisa diakses siapa saja, tanpa sekat status sosial.
Filosofi itulah yang menjadi ruh utama Griya Sarinah: tempat ramah bagi siapa pun yang ingin tumbuh. Di Griya Sarinah, nongkrong bukan sekadar duduk, pesan kopi, lalu sibuk dengan layar masing-masing.

Kegiatan belajar di Griya Sarinah-Foto : Afthon Magang-
Ada rak buku yang bisa dibaca bebas, ruang diskusi terbuka, dan atmosfer yang mendorong percakapan. Di sini, ngopi harus ngobrol. Ngobrol harus bertumbuh. Sebuah upaya kecil untuk mengembalikan kalcer ngopi Indonesia yang mulai terkikis oleh budaya serba cepat dan individual.
Inisiatornya adalah Abdul Khafid, pemuda asal Pasuruan berusia 24 tahun. Selain sebagai pemilik, Khafid juga merupakan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair).
BACA JUGA:Tips Mencegah Judi Online di Kalangan Generasi Muda
BACA JUGA:Truk Boks Tabrak Truk Tronton di Tol Jombang - Mojokerto Tewaskan Satu Orang
Latar akademik itu bukan sekadar titel, tapi tercermin langsung dalam praktik ruang yang ia bangun. Ia tidak menempatkan diri sebagai pemilik yang berjarak, melainkan sebagai kawan diskusi.
Tak jarang, Khafid duduk satu meja dengan pelanggan. Membahas apa saja dari isu sosial, budaya, politik, sampai keresahan hidup sehari-hari. Tidak ada hierarki. Tidak ada batas antara owner dan pengunjung.

Griya Sarinah tampak dalam-Foto : Afthon Magang-
Semua setara sebagai subjek yang sedang belajar dan bertukar pikiran. Di situlah Sarinah menemukan bentuk nyatanya.
“Sarinah bagi saya adalah simbol bahwa ruang publik harus ramah untuk semua kalangan. Di sini tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya setara,” ucapnya.
Sumber:


