Dampak Media Sosial pada Gaya Hidup Modern, Antara Koneksi dan Kecemasan

Dampak Media Sosial pada Gaya Hidup Modern, Antara Koneksi dan Kecemasan

Paparan media sosial memicu tekanan mental pada generasi muda.-Foto : Habib Magang-

Mojokerto, diswaymojokerto.id - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Selain mampu menghubungkan orang dari berbagai belahan dunia, platform digital juga membawa pengaruh besar terhadap pola hidup, cara berpikir, hingga kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda.

Berbagai platform seperti Instagram dan TikTok kini dimanfaatkan sebagai ruang berbagi informasi, inspirasi, hiburan, hingga sarana belajar budaya dan pengembangan karier. Kehadirannya membuka peluang baru bagi siapa pun untuk mengekspresikan diri sekaligus memperluas jejaring sosial.

Namun, di balik manfaat tersebut, penggunaan media sosial secara berlebihan dinilai memicu kecemasan, ketergantungan, serta berkurangnya interaksi sosial di dunia nyata.

Banyak pengguna menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gawai tanpa disadari, sehingga aktivitas fisik dan waktu istirahat kerap terabaikan.


Scrolling ponsel kini jadi kebiasaan sehari-hari.-Foto : Habib Magang-

Berdasarkan data Statistik tahun 2023, sebanyak 4,8 miliar pengguna aktif di dunia memanfaatkan media sosial untuk mencari hiburan, hobi, hingga membangun jaringan pertemanan. Kondisi ini ikut membentuk gaya hidup baru, di mana aktivitas sehari-hari semakin bergantung pada dunia digital.

Di sisi lain, kemudahan akses data juga menghadirkan risiko. Kasus Cambridge Analytica pada 2018 menjadi contoh bagaimana data pribadi pengguna dapat disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Peristiwa tersebut menyadarkan publik pentingnya menjaga privasi di ruang digital.

BACA JUGA:Hilal Awal Ramadan 2026 Tidak Terlihat di Mojokerto

BACA JUGA:Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Ramadan di Jakarta, 17 Februari 2026

Tak hanya soal keamanan data, dampak psikologis juga menjadi perhatian. Studi American Psychological Association tahun 2022 menemukan sekitar 40 persen pengguna muda mengalami gejala kecemasan, seperti insomnia dan penurunan produktivitas akibat paparan media sosial.

Fenomena “perbandingan sosial” pun kerap muncul, saat seseorang membandingkan dirinya dengan konten ideal di dunia maya, yang berujung stres hingga depresi.

Gaya hidup kontemporer pun ikut berubah. Tak sedikit orang lebih fokus membangun citra digital, mengejar tanda suka, serta pengakuan warganet, dibanding menjaga kesehatan fisik dan keseimbangan hidup. Rutinitas olahraga, waktu berkumpul bersama keluarga, hingga kualitas tidur sering kali terabaikan.


Ponsel kini mengubah cara anak muda berinteraksi.-Foto : Habib Magang-

Pengamat menyarankan masyarakat mulai menerapkan kebiasaan digital yang lebih sehat. Di antaranya dengan membatasi waktu layar, melakukan “digital detox” secara berkala, serta menjadikan media sosial sebagai alat pendukung aktivitas, bukan tujuan utama.

Sumber: