Olah Raga Badminton Kembali Tren, Pelatih Ingatkan Pentingnya Tension Senar
Olah raga badminton kembali tren -Foto : Afthon Magang-
Mojokerto, diswaymojokerto.id - Olahraga badminton kembali ramai diminati banyak orang, mulai dari anak muda sampai orang dewasa. Fenomena ini juga dirasakan oleh Akbar Firmansyah, seorang pemain sekaligus pelatih badminton kategori junior yang sudah menekuni olahraga ini sejak kecil. Ia mengaku sudah bermain badminton sekitar 17 tahun sejak kelas 2 SD.
Menurut Akbar, meningkatnya minat masyarakat terhadap badminton saat ini tidak lepas dari tren ikut-ikutan atau FOMO. Meski begitu, ia menilai tren tersebut membawa dampak positif karena banyak orang jadi lebih aktif berolahraga.
“Menurut saya karena sekarang banyak yang ikut-ikutan ya, tapi untungnya ke arah positif, salah satunya badminton ini,” ujarnya.
Di balik tren tersebut, Akbar menyoroti masih banyak pemain baru yang belum memahami hal penting dalam badminton, salah satunya soal tension senar raket. Ia menjelaskan tension adalah tingkat kencang atau kendornya tarikan senar pada raket yang sangat berpengaruh terhadap permainan seseorang.

Salah seorang pelatih Badminton, Akbar-Foto : Afthon Magang-
“Tension itu tarikan senar. Semakin kencang tarikannya, semakin keras juga bantalan senarnya, jadi butuh power lebih besar buat mukul shuttlecock. Begitu juga sebaliknya,” jelasnya.
Ia mengatakan salah memilih tension bisa berdampak langsung pada performa permainan. Pemula yang menggunakan tarikan terlalu kencang biasanya justru kesulitan mengeluarkan power, sehingga pukulan tidak sampai ke ujung lapangan.
Sebaliknya, jika tarikan terlalu kendor sementara pemain sudah punya power, pukulan bisa sering keluar lapangan dan sulit dikontrol.
BACA JUGA:Desakan Rapat Paripurna Pemindahan Pusat Pemerintahan Mojokerto ke Mojosari Menguat.
BACA JUGA:Tabrak Truk Parkir di Mojokerto, Pemotor Asal Sidoarjo Tewas
Selain memengaruhi permainan, kesalahan memilih tension juga berisiko pada kesehatan, terutama cedera bahu. Akbar menyebut banyak pemain mengeluh tangan atau bahu sakit setelah bermain, yang kemungkinan disebabkan penggunaan tension tidak sesuai kemampuan.
“Kalau power belum ada tapi dipaksa pakai senar kencang, bahu bakal dipaksa kerja keras terus. Itu yang bahaya,” katanya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian pemain yang lebih fokus membeli raket mahal dibanding menyesuaikan setelan senar. Menurutnya, hal tersebut sering dipengaruhi gengsi agar terlihat profesional, padahal belum tentu sesuai dengan kemampuan.
“Kalau ditanya lebih penting raket atau tension, jelas tension. Dengan tension yang sesuai skill, power pemain bakal naik pelan-pelan. Semua itu proses,” ungkapnya.
Sumber:

