Greenhouse Berhantu, Lampu Menyala Sendiri, dan Penjaga pun Kabur

Greenhouse Berhantu, Lampu Menyala Sendiri, dan Penjaga pun Kabur

Lampu menhyala sendiri, penjagapun kabur..penglaman Bambang Marhaenanto dalam ujicoba mengendalikan peralatan rumah dari jarak jauh menggunakan smartphone -Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

 

Jember, Diswaymojokerto.id – Ternyata perjuangan menjadi guru besar juga diwarnai berbagai kejadian unik. Salah satunya dialami Prof. Dr. Ir. Bambang Marhaenanto, M.Eng., IPM. ASEAN Eng, yang dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Jember bersama 100 guru besar lainnya beberapa waktu lalu.

BambangMarhaenanto menceritakan pengalaman uniknya ketika melakukan uji coba sistem smart greenhouse milik sebuah instansi di luar kota. Saat itu dia sedang mencoba mengendalikan lampu dan peralatan di rumah melalui perangkat smartphone dari jarak jauh.

Karena mengendalikan peralatan di rumah dari jarak jauh, tentu saja penjaga malam di rumah tersebut juga tidak menyadari kalau peralatan di rumah itu dihubungkan dengan smartphone. ‘’Saat itu saya sedang mencoba mengendalikan peralatan rumah tangga dari jarak jauh,’’ katanya, Selasa, 3 Maret 2026.


Prof Bambang Marhaenanto, dikukuhkan sebagai guru besar FTP Unej. Ada greenhouse berhantu -Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

Ketika sedang melakukan ujicoba itulah tiba-tiba koneksi terputus dan dia tidak bisa memantau kondisi peralatan di rumah yang dijadikan obyek penelitian. Awalnya Bambang penasaran karena koneksi terputus padahal sinyal smartphone di tempatnya mengendalikan juga tidak ada gangguan.

BACA JUGA:Beras Merah: Investasi Kesehatan dalam Setiap Butiran

BACA JUGA:Pengukuhan 4 Guru Besar, UNEJ Miliki 101 Profesor !!!

Dia pun berusaha mencari tahu kenapa tiba-tiba koneksi terputus sehingga dia juga kehilangan kontak dengan obyek yang dikendalikan. ‘’Usut punya usut, eh ternyata penjaga malam di rumah yang peralatannya saya coba kendalikan dari jauh, mematikan aliran listrik,’’ tambahnya.

Saat ditanya mengapa aliran listrik di rumah itu diputus, ternyata penjaga malam itu kaget melihat ada lampu dan pias di rumah itu menyala sendiri. ‘’Melihat ada lampu menyala sendiri, dia panik dan langsung memutus aliran lsitrik dengan mematikan saklar MCB kemudian lari,’’ tuturnya sambal tertawa.

Kisah greenhouse ‘berhantu’ itu tidak bsia terlupakan Prof Bambang yang dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Otomasi dan Informatika Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember. ‘’Itu salah satu kisah unik saat saya melakukan penelitian dan uji coba menggunakan smartphone,’’ paparnya.

Bambang pun menuturkan eksperimen dengan teknologi jarak jauh sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum istilah Internet of Things (IoT) populer. Pada 2010, saat menempuh studi di Thailand, dari jarak jauh ia sudah mampu memantau suhu, kelembaban, hingga menyiram tanaman di greenhouse Jember secara real-time.

BACA JUGA:Home Industri Mebel di Mojokerto Terbakar, Dua Unit PMK Dikerahkan

BACA JUGA:Modal Rp10 Ribu, Dilirik Ratusan Ribu Pasang Mata: Marapthon Reza Arap Jadi Panggung Promosi Murah bagi UMKM

Dengan modal PC bekas, sistem operasi Windows, dan jaringan internet statis, inovasi Bambang Marhaenanto itu sukses membawa karyanya mewakili institusi di ajang pameran internasional yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Thailand di Bangkok pada tahun 2012. Kini, teknologi yang dulunya memerlukan komputer besar tersebut telah ia ringkas menjadi sistem berbasis mikrokontroler yang jauh lebih murah dan efisien.

‘’Kalau dulu menggunakan perangkat computer, sekarang sudah bisa dilakukan menggunakan smartphone, jadi lebih ringkas, lebih simple, lebih praktis, dan bisa dibawa kemana-mana dan kita bisa mengendalikan peralatan di rumah dari jauh,’’ paparnya.

Prof. Bambang menuturkan, dia tertarik pada otomasi sebenarnya berakar dari hobinya memperbaiki perangkat elektronik sejak SMP. Meski menempuh jalur pendidikan pertanian, obsesinya menjadi "insinyur" tetap mengalir melalui skripsi alat sortasi buah otomatis, hingga pendirian Laboratorium Instrumentasi di FTP UNEJ.

Dedikasinya tidak hanya menghasilkan gelar profesor, tetapi juga kontribusi nyata bagi institusi. Fasilitas Smart Greenhouse yang ia kembangkan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung Program Studi Teknik Pertanian UNEJ meraih akreditasi internasional dari lembaga ASIIN.

BACA JUGA:Semarak Ramadan Fest Vol 3 di Jerukseger, Gedeg Mojokerto Dapat Apresiasi Bunda PAUD Kabupaten Mojokerto

BACA JUGA:Ngabuburit di Sekitar Rel Berbahaya, KAI Ingatkan Warga Mojokerto Patuhi Aturan

Dan dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Implementasi Smart Greenhouse pada Budidaya Sayuran Hidroponik", saat pengukuhan guru besar, dia menekankan pentingnya adaptasi cepat terhadap teknologi informasi untuk meningkatkan produktivitas pangan. ‘’Ini sangat berpengaruh pada proses pemantuaan dan pengeturan berbagai hal termasuk pertumbuhan dan produktivitas pangan,’’ tuturnya.

Di balik pencapaian akademik ini, ia mengakui peran besar keluarga sebagai sumber motivasi dan penyeimbang hidup. ‘’Tanpa dukungan moral, doa, dan pengertian keluarga terhadap waktu yang saya curahkan untuk penelitian, pencapaian ini tentu tidak akan terwujud dengan baik," ungkapnya.

Melalui pengukuhan ini, Prof. Bambang berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi praktis bagi dunia pendidikan dan masyarakat, memastikan bahwa teknologi otomasi bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan alat bantu nyata bagi masa depan pertanian Indonesia.

Sumber:

Berita Terkait