Paradoks yang dihadapi Indonesia ‘Bonus Demografi Indonesia atau Krisis Petani?’

Paradoks yang dihadapi Indonesia ‘Bonus Demografi Indonesia atau Krisis Petani?’

Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P., Guru Besar Bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian, Faperta Universitas Jember, saat pengukuhan guru besar-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

 

Jember, Diswaymojokerto.id – Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P. menyoroti paradoks yang dihadapi Indonesia, ‘Bonus Demografi Indonesia atau Krisis Petani? Hal itu dilakuan saat menyampaikan kajian dalam pengukuhan guru besar Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Dalam kajian kepakarannya, orasi ilmiah yang berjudul “Bonus Demografi atau Krisis Petani?  Telaah Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Ketahanan Pangan Indonesia’’ itu dia menekankan, Indonesia memiliki kelimpahan penduduk usia produktif. Namun sektor pertanian justru terancam oleh penuaan populasi petani dan rendahnya minat generasi muda.

Prof. Evita memaparkan kekagumannya pada manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Dengan memanfaatkan akal dan ide yang dimiliki, manusia mampu menciptakan dan mengoperasionalkan teknologi pertanian.


Prof. Dr. Ir. Evita Soliha Hani, M.P., Guru Besar Bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian, Faperta Universitas Jember-Dok Humas Unej for Disway Mojokerto-

Karena itu, manusia disebut sebagai faktor utama pembangunan nasional, sehingga petani menjadi  penentu keberhasilan tahan pangan. ‘’Sejak kecil, saya kagum dengan manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna,’’ katanya, Jumat, 27 Februari 2026.

BACA JUGA:Ramadan, Warung Sego Lego Trawas Mojokerto Diserbu Pengunjung hingga Antre Mengular

BACA JUGA:BEM FKIP UNIM dan ESI Kabupaten Mojokerto Gelar Kontainer Esport Competition Volume 2

Manusia memiliki akal, dengan adanya “akal” ini menjadikan manusia sebagai sumber daya terpenting. ‘’Dengan akalnya, manusia memiliki ide untuk terus menerus menghasilkan teknologi dan manusia juga yang mengoperasionalkan teknologi tersebut.” jelasnya.

Evita menyebutkan, saat ini, Indonesia berada pada fase demographic dividend (bonus demografi) yang ditandai kondisi proporsi penduduk usia produktif melebihi jumlah penduduk usia non-produktif. ‘’Namun, jika tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi beban ekonomi baru, pengangguran massal dan masalah social,’’ paparnya.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Prof. Evita mengungkapkan seorang petani dapat berkontribusi secara signifikan di sektor pendidikan dan penelitian melalui inovasi pertanian berkelanjutan. ‘’Juga dengan adopsi teknologi digital seperti smart farming dan pembaharuan metode budidaya,’’ lanjutnya.

Semua itu, tambahnya, dapat menjembatani teori akademik melalui praktik lapangan, menyediakan data empiris untuk penelitian lanjutan, serta meningkatkan efisiensi sumber daya. Ini sekaligus bisa meningkatkan kualitas generasi muda yang bergerak di sektor pertanian.

BACA JUGA:Antara Ibadah dan Kesehatan: Hukum Menggunakan Pil Penunda Haid di Bulan Ramadan

BACA JUGA:UNEJ Kampus Bondowoso Buka Tiga Program Studi di Jalur SNBP dan SNBT 2026

Dalam menelaah ekonomi sumber daya manusia dalam dunia pertanian, dia mengakui dihadapkan pada beberapa tantangan. Mulai dari krisis regenerasi, penuaan populasi petani serta keterbatasan kompetensi teknologi digital dan manajerial.

“Tantangan utama dalam ekonomi sumber daya manusia (SDM) pertanian meliputi krisis regenerasi akibat rendahnya minat generasi muda, penuaan populasi petani, serta keterbatasan kompetensi teknologi digital dan manajerial,” imbuhnya.

Sekedar diketahui, selain aktif dalam riset, Prof. Evita dikenal sebagai akademisi yang memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat di Unej. Beberapa poin penting dalam perjalanan kariernya meliputi kepemimpinan akademik dengan menjabat sebagai KPS Agribisnis, Wakil Dekan II, hingga Wakil Dekan I.

Dia juga mempunyai prestasi internasional dengan meraih predikat Presenter Terbaik dalam seminar internasional di Universiti Putra Malaysia. Sedangkan dedikasi pengabdian, Evita menerima Satyalancana Karya Satya (30 tahun) dan penulis 4 buku teks utama di bidang ekonomi pertanian.

BACA JUGA:Inovasi Bioteknologi UNEJ Jawab Tantangan Infeksi Resisten Antibiotik

BACA JUGA:BEM FKIP UNIM dan ESI Kabupaten Mojokerto Gelar Kontainer Esport Competition Volume 2

Evita menjelaskan, dukungan keluarga juga selalu menyertai proses dalam meraih gelar doktor, baik dalam bentuk materi maupun non materi, sehingga semua itu dapat lebih menguatkan. “Suami dan anak-anak sangat mendukung saya untuk meraih gelar professor,’’ tuturnya.

Dukungan mereka dalam bentuk material maupun non material sangat dirasakan sebagai motivasi menyelesaikan tugas-tugasnya. ‘’Semangat mereka membarakan semangat saya. Doa mereka menguatkan doa saya,’’ sahutnya.

Pencapaian Prof. Evita di puncak karier akademik ini merupakan buah dari pendidikan karakter yang kuat di lingkungan keluarga. Tumbuh besar sebagai putri dari seorang Guru Besar di Fakultas Hukum Unej, Evita mewarisi nilai-nilai kedisiplinan dan kecintaan yang mendalam pada ilmu pengetahuan.

‘’Ayah saya adalah sosok yang tidak pernah lepas dari buku, baik di rumah maupun di area umum. Beliau mengajarkan bahwa dosen harus produktif menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi dan wajib meraih gelar guru besar sebagai wujud nyata kepakaran ilmu,’’ ungkapnya.

BACA JUGA:Safari Ramadan di GPI Wates, Wali Kota Mojokerto Ingatkan Waspada Bencana Akibat Curah Hujan Tinggi

Baginya, gelar profesor ini adalah wujud penunaian amanah sang ayah untuk terus berkontribusi bagi dunia pendidikan. Pencapaian gelar profesor itu sekaligus memperkokoh Universitas Jember (Unej) sebagai pionir riset berbasis pertanian di Indonesia melalui penguatan sumber daya manusia akademiknya.

Sebagai pakar baru di bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian, Evita Soliha Hanitidak hanya menambah deretan guru besar berkualitas. Tetapi juga membawa perspektif baru dalam menjawab tantangan krisis petani di era bonus demografi.

Sumber:

Berita Terkait