Kolaborasi Unair dan Unhas Satukan Perspektif Sejarah, dari Singasari hingga Timur Nusantara

Kolaborasi Unair dan Unhas Satukan Perspektif Sejarah, dari Singasari hingga Timur Nusantara

Pertemuan dan kolaborasi antara FIB Unair dan Unhas-Foto : Humas Unair-

Surabaya, diswaymojokerto.id - Upaya menyatukan cara pandang terhadap sejarah Nusantara terus digagas kalangan akademisi. Salah satunya melalui pertemuan antara Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) dan Departemen Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin (Unhas), Sabtu, 25 April 2026

Bertempat di Ruang Majapahit, ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B, pertemuan ini tak sekadar kunjungan formal. Diskusi yang mengusung tema Kolaborasi Sejarah Jawa Dwipa dan Timur Nusantara itu berkembang menjadi ruang tukar gagasan yang hidup terutama di kalangan mahasiswa.

Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Unair, Johny Alfian Khusyairi, menegaskan bahwa forum semacam ini penting untuk membangun keberanian akademik mahasiswa.

BACA JUGA:Chabib Sjarbini, dari Ruang Sidang ke Balai Kota: Jejak Pemimpin yang Mengubah Wajah Mojokerto

BACA JUGA:Jember Siaga Kekeringan 2026: Waspada dari Sekarang, Puncaknya Diprediksi Agustus

“Ini bukan hanya silaturahmi, tapi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan dan menyampaikan argumen kritis. Dari sini, perspektif sejarah bisa berkembang lebih luas,” ujarnya.

Ia juga berharap kolaborasi ini tidak berhenti di satu pertemuan. Kunjungan balasan ke Makassar menjadi agenda yang diharapkan dapat memperkaya pengalaman akademik sekaligus mempererat hubungan antarkampus.

Diskusi semakin mengerucut ketika dosen sejarah FIB Unair Edy Budi Santoso, mengangkat pentingnya keseimbangan perspektif dalam membaca sejarah Indonesia. Ia mengingatkan agar kajian sejarah tidak terjebak pada sudut pandang wilayah tertentu.

BACA JUGA:Tak Perlu ke Kota Lagi! Gus Fawait Hadirkan “Pemkab Mini” di Pelosok Jember

BACA JUGA:UMKM Herbal di Persimpangan Digital, Bertahan atau Tertinggal? Ini Temuan Riset Terbaru

Menurutnya, narasi besar Nusantara hanya bisa dipahami secara utuh jika ada dialog antara perspektif barat dan timur Indonesia. Dalam konteks itu, ia menyinggung peran Kerajaan Singasari sebagai salah satu titik penting dalam sejarah Jawa Dwipa.

“Singasari bukan sekadar kerajaan besar di Jawa, tapi juga menjadi awal bagaimana kekuatan politik mulai melihat potensi maritim di luar pulau. Ini yang perlu dibaca bersama dengan dinamika wilayah timur,” jelasnya.

Diskusi pun berkembang ke berbagai topik, mulai dari silsilah kerajaan hingga jaringan perdagangan antarpulau. Mahasiswa dari kedua kampus tampak aktif berdebat, menunjukkan meningkatnya ketajaman analisis dalam melihat hubungan sejarah lintas wilayah.

BACA JUGA:Maraknya Aksi Bunuh Diri di Jembatan Cangar, Petugas Bakal Intensifkan Patroli

Sumber: